Feeds:
Posts
Comments

ISHTAR

“Dan Tak Layak Kau Didera..”

Namaku Ishtar. Saat ini aku bekerja di salah satu perusahaan Telekomunikasi di Vietnam sebagai asisten manager promosi, ya kurang lebih seperti itulah. Entah apa yang membawaku ke negara ini, mungkin Indonesia sudah tak ada lagi lapangan pekerjaan. Tidak. Bukan itu, aku senang tinggal disini. Kota yang aku tinggali tidak terlalu besar, namun sudah cukup metropolitan bagiku, dan yang paling menyenangkan disini adalah, sepanjang jalan sangat dekat dengan pantai. Kotanya bersih dan jauh dari hiruk pikuk macet. Hampir tidak ada macet disini. Sudah hampir setahun aku berada disini.

Seperti yang sebelum-sebelumnya, weekend selalu menjadi jadwal chating dengan sahabat-sahabatku di Indonesia. Aku menikmati hubungan jarak jauh dengan mereka, tidak apa-apa meski hanya bisa melaui rentetan kata, tapi aku tetap bisa tertawa. Dunia memang sudah sedemikian modern, sehingga berlama-lama di depan komputer sambil senyum-senyum sendiri pun tidak lagi menjadi hal yang aneh. Sambil ngobrol dengan mereka aku memeriksa email, dan salah satunya datang dari atasanku.

***

Australia sangat keren, mataharinya terik dan yang paling aku suka adalah untuk pertama kalinya aku berada di tempat baru, dan nanti akan bertemu dengan orang-orang baru. Training yang aku datangi diikuti oleh banyak peserta dari belahan dunia. Wajah mereka sangat asing bagiku. Pagi itu kami dikumpulkan untuk acara pembukaan dan perkenalan baik dengan penyelenggara maupun dengan sesama peserta. Rupanya aku datang kepagian. Aku memilih tempat duduk tidak terlalu di depan. Bangku di samping kanan-kiriku pun masih kosong.

“Kebetulan itu tidak ada. Semuanya sudah diatur. Tuhan yang mengatur.”

Tidak lama setelah itu, kamu datang dan menanyakan apakah bangku di samping kananku sudah ada yang menempati. Sambil menyodorkan tangan, kamu memperkenalkan diri.

”Hi..! I am Alif.”

Aku pun memperkenalkan diriku. Semua detail tentang pertemuan pertama kita masih terekam jelas dalam ingatanku. Itu karena kamu membuatnya seperti itu. Ya. Caramu memulai percakapan denganku, jawaban yang kamu berikan, jawaban yang tidak pernah aku jumpai saat berkenalan dengan yang lain. Kamu membuatku tertawa. Kamu lucu.

Selain kamu adalah orang Indonesia, aku rasa tidak ada yang spesial darimu. Kamu seperti lelaki kebanyakan. Berjalan seperti lelaki, bersuara seperti lelaki dan berpenampilan seperti lelaki. Entah bagaimana awalnya kita bisa dekat. Kamu mendekatiku? Aku rasa tidak. Aku berusaha menarik perhatianmu. Tidak juga. Atau keadaan yang membuat kita dekat? Mungkin karena tiap hari kita bertemu membuat kita lebih saling mengenal satu sama lain. Entahlah. Atau ini semua hanya kebetulan semata? Kebetulan saja kita mengikuti training yang sama, dan bisa berkenalan lalu bisa menjadi dekat? Ya mungkin memang kebetulan. Kebetulan aku yang dikirim oleh perusahaanku untuk mengikuti training ini, kebetulan juga bagimu bisa datang, kebetulan tiga bulan ini sangat menyenangkan. Ayolah. Kebetulan itu tidak ada. Semuanya sudah diatur. Tuhan yang mengatur.

***

Aku tau kamu sudah bertunangan. Cincin di jari manismu sudah sangat jelas mengatakan hal itu. Aku tau, ada beberapa orang yang terlarang untuk bisa kita cintai. Orang sepertimu salah satunya. Aku tidak ada niat untuk menggodamu. Tidak. Bukan itu. Sungguh bukan itu maksudku. Aku hanya ingin menyentuh hatimu, tanpa harus melibatkan hatiku. Tapi aku lupa, untuk dapat menyentuh hati seseorang, kita juga harus menggunakan hati.

Pernah aku memperingatkanmu agar tidak terlalu dekat denganku, karena jika kamu tetap melakukannya. Aku bisa pastikan kau akan jatuh cinta kepadaku. Aku mengatakannya agar kamu tidak membawa hubungan pertemanan kita menjadi lebih jauh lagi. Tadinya aku yakin pada diriku sendiri bahwa aku bisa untuk tidak jatuh cinta dengan orang yang tidak boleh aku sayangi.  Orang yang jelas sekali sudah bertunangan. Aku yakin sekali bahwa perasaan itu bisa dikendalikan. Ternyata aku salah. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak bisa mengendalikan perasaanku sendiri. That’s why it’s called fall in love,  because you just fall.

“Tapi aku lupa, untuk dapat menyentuh hati seseorang, kita juga harus menggunakan hati.”

Saat bertemu denganmu aku sedang dalam keadaan yang bebas untuk mencintai siapapun. Bahkan aku berani bilang, saat itu aku sedang dalam keadaan terbaik untuk jatuh cinta. Aku tidak sedang terikat dengan siapapun, aku tidak sedang mencari pelarian akibat patah hati, atau aku tidak sedang bermasalah dengan seseorang kemudian aku mencari yang lain. Bisa bertemu denganmu adalah takdir, memutuskan untuk dekat denganmu merupakan pilihan diriku sendiri, tapi jatuh cinta denganmu adalah sesuatu yang tidak dapat aku kendalikan.

Bisa jadi, karena saat itu aku sedang dalam keadaan terbaik untuk jatuh cinta, aku menampilkan diriku yang terbaik sebagai pribadi yang siap untuk dicintai. Aku tidak memilihmu, aku tidak dengan sengaja memilihmu. Ada campur tangan Tuhan disitu. Nice to know you… Dan sampailah kita di akhir kebersamaan ini. Kita harus berpisah.

***

Kini kita harus kembali ke kehidupan semula. Aku merasa ada yang hilang, entahlah. Aku masih memikirkanmu. Aku pikir untuk apa aku melakukan semua ini. Ah, mungkin nanti seiring berjalannya waktu, aku akan melupakanmu dan kamu pun akan melupakanku. Kita akan melupakan ‘kita’. Namun kamu masih memperlakukan kita dengan perlakuan spesial. Aku merasa diperhatikan, meskipun jauh, seolah-olah kamu ada disini. Tidak. Tidak hanya kamu yang memperlakukan kita dengan perlakuan spesial, akupun melakukannya. Aku menciptakan bayanganmu di hatiku.

“Maafkan aku terlanjur sayangi, terlanjur ingini semua yang ada.”

Aku ingin kamu tahu, bahwa sebenarnya aku tidak ingin membuat semua ini menjadi semakin dalam. Tiap kali hendak menghubungimu, aku selalu berpikir tentang wanita disampingmu. Aku mencoba untuk mengerti perasaan wanita itu. Tapi maafkanlah aku. Maafkan aku terlanjur sayangi, aku terlanjur ingini semua yang ada. Dan akhirnya kukatakan padamu. Kalaupun keadaan mengharuskan kita untuk tidak dapat bertemu seperti dulu, aku akan baik-baik saja. Aku bisa berdiri sendiri kalau itu harus, meski kamu tidak ada disampingku. Tapi aku menginginkanmu. Aku mau kamu ada disini. Aku minta maaf atas keinginanku itu.

Surat pendek itu ingin sekali aku kirimkan padamu. Tapi aku tidak bisa. Jadi, sampai detik inipun aku masih menyimpannya. Surat itu aku selipkan disampul bagian belakang sebuah buku yang sering aku baca. Kalaupun kamu membacanya, aku rasa tidak akan ada penjelasan apa-apa darimu. Kamu hanya akan bilang bahwa kamu sayang padaku dan akan mengatakan semuanya saat kamu datang kesini suatu hari nanti. Baiklah. Aku akan melanjutkan hidupku. Dan aku akan menunggumu datang untuk menjelaskan beberapa hal tentang kita. Aku meyakini bahwa suatu hari nanti akan datang saatnya kau jujur padaku. Aku menginginkanmu membuat keputusan yang terbaik untuk dirimu. Aku mengharapkan kau memiliki doa yang berujung sama dengan doaku. Doa yang terbaik.

***

Sore itu seperti biasa aku berjalan pulang ke rumah, melewati zebra cross, menunggu lampu menyala merah agar kendaraan itu berhenti dan aku bisa melenggang dengan aman. Di muka gang depan rumahku, tiba-tiba seseorang mendahului langkahku. Surprise. It was you!

I didn’t expect you to come, but I believe you will come.

Senang rasanya bisa bertemu lagi denganmu. Senang rasanya bisa berdua melewati waktu itu. Senang akhirnya kamu benar-benar datang. Dan yang paling membuatku senang adalah mengetahui bahwa tidak ada rasa canggung sedikitpun saat pertama kali bertemu setelah sekian lama kita tidak berjumpa. Dan aku rasa itu karena kamu memang dekat di hatiku.

Sampai pada saat aku menanyakan tentang kejujuran hatimu. Aku senang karena akhirnya kamu mengatakan semua isi hatimu. Aku tau tidak mudah bagimu untuk mengungkapkannya. Tapi terima kasih banyak sudah sanggup melakukannya. Aku senang bahwa aku menyayangi orang yang juga menyayangiku. Hanya saja…kita tidak bisa bersama.

Sebulan lagi kamu akan menikah. Semuanya seolah tidak lagi dapat aku jangkau. Kenyataan yang harus kita hadapi adalah bulan depan kamu akan menikah. Pernikahan itu hanya menghitung hari, semuanya sudah siap. Semua orang sudah mengetahui bahwa kamu akan menikah. Dan pernikahan itu harus dilakukan. Kamu ingin bersamaku, tapi kamu tidak bisa melakukannya. Bersamaku akan menciptakan beban yang sangat berat. Apa yang akan kamu katakan pada wanitamu, pada keluargamu, pada semua orang yang sudah mengetahui rencana hidupmu itu.

”Tidak apa-apa. Aku akan mencoba untuk mengerti bebanmu itu. Ini pasti tidak akan mudah bagiku. Bagi kita.” air mata mengalir dimataku. Dan kalimat terakhir yang aku ucapkan padamu sebelum kita diam dalam keheningan, diam untuk saling mengerti perasaan masing-masing.

”Pulanglah padanya…” kataku pelan.

...Rasakan semua, demikian pinta sang hati. Amarah atau asmara, kasih atau pedih, segalanya indah jika memang tepat pada waktunya. Dan inilah hatiku pada dini hari yang hening. Bening. Apa adanya…

by Dewi Lestari

Menahun, ku tunggu kata-kata
Yang merangkum semua
Dan kini ku harap ku dimengerti
Walau sekali saja pelukku
Tiada yang tersembunyi
Tak perlu mengingkari
Rasa sakitmu
Rasa sakitku
Tiada lagi alasan
Inilah kejujuran
Pedih adanya
Namun ini jawabnya
Lepaskanku segenap jiwamu
Tanpa harus ku berdusta
Karena kau lah satu yang ku sayang
Dan tak layak kau di dera
Sadari diriku pun kan sendiri
Di dini hari yang sepi
Tetapi apalah arti bersama, berdua
Namun semu semata
Tiada yang terobati
Di dalam peluk ini
Tapi rasakan semua
Sebelum kau ku lepas selamanya
Tak juga ku paksakan
Setitik pengertian
Bahwa ini adanya
Cinta yang tak lagi sama

Kamu yang memutuskan, dengan siapa nanti akan kamu habiskan sisa hidupmu. Pilihlah dia yang menurutmu bisa membuatmu jatuh cinta berkali-kali, dia yang bisa menjadi matahari pagi menyinari harimu, dia yang bisa membuatmu berjalan dengan menegakkan kepala karena dia meyakini bahwa kamu lelaki hebat, dan dia yang bisa membuatmu nyaman seperti anak umur lima tahun dipangkuan ibunya.

Kamu yang memutuskan. Tak ada lagi yang bisa aku lakukan. Aku hanya bisa menunjukkan yang terbaik dariku. Inilah diriku. Satu hal yang aku yakini, kamu adalah lelaki baik. Lelaki yang baik adalah lelaki yang melakukan apa yang sudah dikatakannya. Aku tau kamu sayang padaku, aku tau kamu akan berbuat sesuatu yang akan membuatku yakin kalau kamu memang sayang padaku dan ingin bersamaku, karena itulah aku mengagumimu.

Namun, jika untuk bisa bersamaku membuat bebanmu terasa lebih berat. Mungkin, lebih baik jangan kau lakukan. Mungkin, aku bukan pilihan. Ajaklah hatimu bicara, suara hati akan keluar dengan nada yang sangat menenangkan dan akan membuatmu yakin. Dengarkan saja kata hatimu. Hati tidak pernah salah. Aku ingin kamu mengambil keputusan yang terbaik untuk dirimu dan sekitarmu.

Karena kau lah satu yang ku sayang…dan tak layak kau didera.

*finger crossed for both of us

Balikpapan, 28 Januari 2011

Malam ini saya lagi ada di kantor, tidak untuk lembur karena ternyata yang namanya pekerjaan itu, dilemburin atau ngga, perasaan sama aja, ada mulu,hehe. Bangunan ruko dua lantai ini sepi, cuma ada saya seorang ditemani penjaga malam yang lagi asyik ngerumpi di depan sama gang-nya. Entah ngomongin apa, ketawanya sampe kedengeran disini meskipun saya juga sedang nyalain winamp, dengerin lagu-lagu lama yang menurut saya ngangenin.

Ngomongin tentang kangen, saya kangen dengan kehidupan saya sebelum ini. Kehidupan dimana saya jadi seorang laki-laki yang baru keluar dari penjara. Laki-laki yang tangannya berotot dan tato dimana-mana. Hahaha.. ya enggak lah! Itu Cuma imajinasi asal! Yang saya maksudkan adalah kehidupan sebelum saya tinggal disini. Mari flashback.

Tanggal 5 Februari nanti, tepat setahun yang lalu adalah merupakan salah satu hari yang menegangkan dalam hidup saya. Mungkin ini berlebihan, tapi bagi saya tidak. Tidak berlebihan bagi seorang anak yang baru saja lulus, yang selama 4 bulan menjalani beragam tes masuk di beberapa perusahaan, yang sudah merasa suntuk dengan 4 bulan tanpa kepastian. Tanggal 5 Februari 2010, saya mendapat telepon jam 5 sore dari HRD tempat saya bekerja sekarang bahwa saya besoknya harus sudah ada di Jakarta jam 9 pagi untuk mengikuti tes tahap akhir. Saya nangis! Dan saya yakin itu tangisan puas, setelah saya minta pada Tuhan untuk membesarkan hati saya yang waktu itu sedang tidak besar! Oke! Saya inget banget bagaimana kondisi saat itu, saya lagi di mobil nungguin Ibu saya yang sedang ikut kampanye temannya yang mencalonkan diri menjadi Walikota, di luar hujan deras dan saya kelaparan! Akhirnya saya memutuskan untuk jalan kaki beli makanan cepat saji yang kebetulan ada di dekat situ. Sekembalinya di mobil, saya melihat ada empat missed call dari nomor berkode 021 dan saya yakin itu adalah nomor HRD perusahaan saya sekarang. Seketika itu juga nafsu makan saya hilang, ayam goreng yang masih panas pun terlihat tidak menarik bagi saya. Saya coba menghubungi nomor tersebut tapi tidak bisa, karena mungkin nomor tersebut didesain untuk tidak dapat dihubungi kembali.

Saya pasrah!

Handphone saya pelototin sambil menyilangkan jari telunjuk dan jari tengah, berharap bisa muncul nomor yang sama. Dan ngga lupa berdoa, doa klasik yang sering saya minta:

”Tuhan, terimakasih atas kesempatan yang Kau beri, tadi aku ngga denger kalo hape-ku bunyi, beneran deh! Satu kali kesempatan ya Tuhan, bisikkan pada orang yang menelpon itu, kalo sekarang aku sudah dalam keadaan bisa menerima telepon!”

*doa culun

Handphone saya bunyi. Mau tau ringtone-nya? *ngga penting

And, yes! Tuhan Maha Mendengar! Dan Tuhan ngga cuek,hehe

Jadilah setelah itu saya resmi menjadi bagian dari sekelompok orang–enampuluhorang. Namanya XXXI. Eh itu bukan nama samaran lho. Hampir mirip dengan apa yang saya inginkan di 2010, dapat pekerjaan, dapat kenalan baru, dan tentu saja, kehidupan baru. Kalo diceritakan bagaimana kisah saya dengan 59orang itu, bisa jadi satu novel kali ya. Im working on it! Sudah dapat dua chapter siy, bukan kehabisan ide, tapi saya suka sensitive sendiri kalo mengingat kisah-kisah dengan mereka. Menyenangkan, walaupun sebagian besar dari mereka berkumpul di ibukota, I got a clear picture of them in my mind. Gimana ngga? Wallpaper komputer ini pun memasang wajah sumringah mereka semua. Kangen!

Jauh di mata, dekat di hati. Meski jauh kau selalu di hati. –The Sister–

(sekali lagi) Tuhan mengabulkan doa saya untuk bisa tinggal di tempat yang benar-benar baru dimana tidak banyak orang yang kenal dengan saya. Dan Tuhan memang Maha Mendengar, sama sekali ngga cuek,hehe saya diberi kehidupan baru di Balikpapan.

Jadilah saya mulai menjalin hubungan jarak jauh dengan banyak orang. I am enjoying this kind of long distance relationship with ten thousand people. Tetapi tidak semudah yang dibayangkan. Ibu saya adalah orang yang paling merasakan hal ini. Mungkin karena saya adalah anak terakhir, dan saya Cuma bisa bilang sama Ibu saya. ”Mom, we have to face this situation”. Ini juga tidak mudah bagi saya, akhirnya pun kita cuma bisa berhubungan by sms, telepon dan sesekali menggunakan web cam, sampe suatu saat Ibu saya bilang, “Mama ngga mau web cam-an lagi, sedih, bisa ngeliat adek gerak-gerak, bisa dengar suaranya. Pengen pegang dan cium tapi ngga bisa. Sudah ya, kita telpon aja.”

Saya nangis!

Walau raga kita terpisah jauh, namun hati kita selalu dekat.

Bila kau rindu pejamkan matamu, dan rasakan aku.

-Zivilia-

Ngga hanya dengan Ibu saya, saya juga merindukan momen kebersamaan dengan sahabat saya di Surabaya dan Jakarta. Tapi bukannya hukum Alam memang seperti itu, akan datang saatnya dimana kita akan benar-benar diharuskan untuk bisa dan sanggup berdiri sendiri, meskipun pada kenyataanya kita tidak pernah benar-benar sendiri. Yes, we will never walk alone.

Saya terimakasih banget sama penemu telepon dan internet, karena tanpa kedua hal tersebut, hubungan jarak jauh akan terasa getir,hahaha ngga juga kali ya?

Meskipun saya terpisah jarak, ruang dan waktu dengan banyak orang terkasih. Terpisah jarak ribuan kilometer, terpisah ruang yang berbeda dan terpisah waktu yang berselisih-disini menggunakan Waktu Indonesia Tengah. Tapi saya selalu merasa dekat. Ini semua memang pilihan. Pilihan saya adalah jauh tapi merasa dekat daripada sebaliknya, dekat tapi merasa jauh. Trust me..kalo kita dekat dengan seseorang tapi merasa jauh, it feels empty..

Apakah kamu juga sedang menjalani hubungan jarak jauh?

Enjoy every moment of it, karena ada sesuatu yang memang harus dijalani dan diperjuangkan dari hubungan jarak jauh itu sendiri, dan nantinya akan ada hasil yang layak untuk didapatkan. Yang saya pelajari adalah bagaimana kita tetap merasa dekat dengan mereka yang kita kasihi, meskipun secara fisik kita tidak bisa bersama, tapi nanti suatu saat jika ada kesempatan kita untuk bersama, i believe..momen itu akan terasa sangat berharga!

Saya tunggu kamu disini.

Semoga kita bisa ketemu di keadaan yang jauh lebih baik :)

Joie de Vivre!

Ini mungkin ngga penting buat kamu, tapi ngga mau tau deh, tetep saya kasih tau aja bahwa saya adalah manusia yang bershio Kelinci. Februari ini adalah tahun Kelinci, dan juga tepat Sembilan bulan saya tinggal di Balikpapan. Menurut ramalan orang banyak (entah ramalan siapa) yang saya dengar siy tahun Kelinci ini merupakan tahun yang sangat bagus bagi mereka yang bershio Kelinci, dan kamu pasti juga tahu dong kalo angka Sembilan merupakan angka keberuntungan, jadi semoga tahun ini semuanya berjalan lancar dan indah. Amin..

Tidak ada tulisan baru yang saya posting sejak kedatangan saya kesini, bukan berarti saya tidak lagi menulis, tapi saya rasa apa yang saya tulis belum layak untuk dibaca orang, daan..saya sibuk dengan kehidupan baru saya disini, pekerjaan baru, orang baru, makanan baru, dan tentu saja bahasa baru.

Baiklah. Saya akui bahwa I am an Observant, saya adalah seorang pemerhati. Saya suka mengamati lingkungan sekitar saya yang baru, orang-orang yang terlibat, kebiasaan yang mereka lakukan dan bahasa yang diucapkan sampe gaya bercandanya. Mungkin itu sebabnya kalo ada di lingkungan baru, saya menjadi cenderung pendiam. Ya memang saya pendiam koq orangnya :)   boleh ditanyakan ke teman-teman saya, they’ll vouch for that! Hehe..

Dan saya rasa semua orang tahu kalo Indonesia ini beragam banget budayanya, dan dari beragam budayanya itu, pasti juga akan menciptakan beragam bahasa! Sampai saat ini saya sudah jalan sembilan bulan tinggal di Balikpapan, kota yang menurut statistik siy penduduknya didominasi oleh kaum pendatang. Jadi jangan heran kalo disini bakal ditemuin banyak bahasa, ada Jawa, Betawi, Banjar, Bugis, dan bahasa entah-apa-itu-namanya.  Semua itu bener-bener baru di telinga saya, sampe saya sendiri pun mungkin sudah ikut terbawa dengan cara bicara orang disini.

Kosakata Satu : akhiran ”…kah?

Akhiran ’..kah?’ ini menurut saya adalah salah satu hal yang paling mencolok yang sering diucapkan oleh orang-orang disini. Awalnya siy kedengeran aneh, tapi lama-lama udah terbiasa dan malahan sekarang jadi ikutan,hehe! Jadi kalo kita ingin menanyakan sesuatu itu harus (*eh, ngga harus ding) diakhiri dengan ’..kah?’, kayaknya siy akhiran ini dipake dengan tujuan untuk lebih memastikan. Misalnya:

”Makah-kah?” : makan ngga? / Mau makan ngga?

”Sibuk-kah?” : sibuk ya? / Lagi sibuk?

”Ada-kah?” : ada ngga?

Kalo bahasa saya di Surabaya sono, kayaknya siy akhiran ’..kah?’ itu sama artinya dengan ’..ta?’, kalo bahasa Indonesia mungking sama artinya dengan ’..ya?’,

Nah, kalo kalian yang baca tulisan saya ini, kalo bahasa kamu apa..? Sama-kah? *hahahahaha

Kosakata Dua : Betul

Emang bener siy semua yang terdengar baru di telinga itu pasti bakalan aneh. Kalo di sini yaa, kata ’betul’ itu tidak sama dengan ’benar’, tapi lebih ke arah ’banget’ atau ’sekali’. Kurang lebih digunakan untuk mengungkapkan sesuatu yang lebih dari standar. Misalnya:

Bagus betul : Bagus banget / Bagus sekali

Lama betul : Lama banget / Lama sekali

Nah sekarang pertanyaannya, kalo saya mau ngomong ’Betul banget’ jadi gimana ya bahasanya.. apakah akan menjadi ”Betul betul” hmmm…, tambahin satu ’betul’ lagi udah berasa nonton upin-ipin deh..

Betul? Betul? Betul? *hahahaha

Kosakata Tiga : Kompek

Coba tebak apa maksudnya kompek? Bedak padat alias kompek poder (compact powder)..? bukan! Kompek perumahan..? bukan! *itu komplek yaa

Pernah suatu hari ada orang kantor tiba-tiba nanya,”Ndra..punya kompek-kah?”. Saya Cuma bengong sambil mikir –ini orang, cowok iya, tapi koq nanyain bedak- ngeliat saya bengong dia melengos aja dan saya pun nanya. ”Kompek apaan?” sambil nyengir si orang kantor jawab, ”Yee..udah hampir setaon disini, masa kompek aja ngga tau…Kompek itu tas kresek”. Oooh…. *nama yang unik

Ngga tau kenapa saya jadi lebih terkesan dengan benda yang namanya tas kresek ini, karena ternyata ada nama lainnya. Ibu saya orang Palembang, dan tas kresek dalam bahasa Palembang adalah Tas Asoy. Keren banget kan? Saking terkesannya dengan nama Tas Asoy itu, password salah satu file rahasia saya (yang sekarang sudah jadi ngga rahasia lagi) adalah tasasoy.

Kalo di tempat kamu tinggal..apa sebutan tas kresek disana? Mungkin lebih unik…hehe

Ada banyak lagi kosakata yang baru di telinga saya, tapi mungkin lain waktu saya ceritakan, atau kamu main aja ke Balikpapan, kota paling bersih yang pernah saya tinggali meskipun susah untuk menemukan tempat sampah di depan rumah masyarakatnya. Ngga percaya? Datang dan buktikan sendiri!

Dan yang terakhir…

Waktu saya pulang kampung untuk ikutan Reuni kemaren, sudah ada teman saya yang menyadari dan berkomentar: ”Bahasamu koq jadi aneh gitu siy, Ndra!”

Dan reflek saya menjawab, ”Iya Kah..?

Oke. Mungkin Balikpapan sudah mulai merasuki saya..hihi

*setan kaliii..merasuki

Jakarta, 5 Mei 2010

Dear Everyone,

Cuaca pagi ini sama sekali tidak cerah, mendung. Sama seperti suasana separuh hati saya.

Pagi ini adalah salah satu pagi yang paling menyenangkan dalam hidup saya. Bukan karena saya dibangunkan oleh dering handphone dari Papa yang menanyakan tentang KTP (Kartu Tanda Penduduk) saya yang sudah mati tanggal 6 Maret lalu, bukan karena saya bisa bangun siang di saat ke Empat-Puluh-Delapan teman Angkatan XXXI yang lain sedang berjuang melawan macetnya kota Jakarta, pagi ini menyenangkan karena saya bangun dan melihat satu pesan di handphone saya.

Turn and keep your charming on Indrawati Yustisiana,, because you are a good girl and there must be a good reason for you to spend time at Balikpapan…

Gw jadi inget cerita Pak Rony tentang betapa bangganya dia sama cewe yang ditempatkan di Bengkulu tapi tetap fight buat buktiin kebisaan (kemampuan) dia, dan tahun-tahun berikutnya adalah elu yang akan dibangga-banggain Pak Rony.

Insyaallah terwujud dalam waktu singkat ^^

[Thanks to the sender of the message. Now I know who sent me the letter on LPPA. It was you, right?]

Daann…pagi ini menyenangkan bahwa Senin depan saya akan berada di kota lain.

Balikpapan.

*hening sejenak

“Indraa..kenapa siy koq elo yang ditempatin jauh banget?”

“Tenang aja Ndra…Balikpapan kotanya bagus banget. Gw yakin elo pasti ngga bakalan mati gaya di sana”

“Semangat ya Ndra, gw tau elo pasti bisa. Emang sengaja elo ditempatin paling jauh, karena elo mampu. Coba kalo itu gw..mati deh!”

Dan banyak pernyataan-pernyataan lain dari teman-teman yang mencoba membesarkan hati saya (padahal hati saya waktu itu sudah besar, haha, Sombong!) Anyway, thanks to you guys and gals. Thanks for the warm hug and encouragement given to me. It means a lot. Dan sesaat setelah pengumuman penempatan itu, mendadak saya menjadi selebriti karena semuanya pengen foto bareng.

Hahaha!

Apa sichh?

*Slogan MT XXXI mode : ON

“Tenaang aja, anak mama kan Jagoan. Pasti bisa. Mama sedikitpun ngga khawatir, mama yakin Adek bisa beradaptasi dengan cepat di sana. Tapi, biar bagaimanapun juga, Mama adalah seorang Ibu. I can’t resist my feelings; I worry because you’re on your own there.“

My mother would have believed that I could do it, so why should I become someone who’s not confident? And let me tell you Mom, I’m a SuperWoman, and one day I will be great.

Pernyataan terakhir ini benar-benar menguatkan hati dan menyadarkan saya akan satu hal.

Indrawati Yustisiana, you’re going to be ‘something big’.

Jadi, bener banget kata orang, pengumuman penempatan adalah saat-saat yang paling mendebarkan. And it happens to me! I was the person who gets the biggest surprise in this case. Saya adalah salah satu dari dua orang yang namanya dipanggil pertama kali untuk menerima SK Penempatan. Masih inget banget bagaimana suasana saat itu, pada saat Ibu Direksi menyebutkan nama saya dan menyandingkannya dengan kata ‘Balikpapan’.

To be honest, I was very surprised to hear the word of Balikpapan. I really don’t have any feelings about this placement. But it never crossed my mind that all this leads to Balikpapan.

Seketika itu saya ngga fokus, bahkan senyum di kamera pun pasti akan terlihat getir (jiaahh, bahasanyaa). Later, I accept whatever happens.

Kemudian kabar tentang Balikpapan ini menyebar luas dengan cepat. Teman-teman saya di Surabaya sudah mulai menanyakan ini dan itu, begini dan begitu. Salah satunya.

“Kenapa kamu jadi satu-satunya cewek yang ditempatin di Luar Jawa?”

Pertanyaan seperti ini datang dari segala penjuru dunia, hahaha (emang saya siapa ?) ngga ding, becanda. Pertanyaan seperti ini datang dari keluarga saya terutama Mama dan Papa, juga teman-teman saya. Dan jujur, saya juga bingung gimana menjawabnya. Saya sempat mendapat penjelasan singkat dari SDM tentang hal ini.

Pertama, karena di Balikpapan sedang butuh seseorang dengan backgroundTeknik.

Oke! Ini bisa dimengerti karena background pendidikan saya memang dari Teknik.

Kedua, karena sepertiga penduduk di Balikpapan adalah orang Jawa Timur. Jadi mereka berasumsi bahwa saya tidak akan kesulitan untuk beradaptasi di sana.

Oke! I will take this as a compliment karena mereka berasumsi bahwa saya bisa beradaptasi dengan cepat, padahal itu belum tentu. Eh ngga ding, saya ralat! Itu sudah tentu. Karena iya dan iya dan iya, dan iya, saya akan dan bisa beradaptasi dengan cepat :)

Cuma dua hal itu, penjelasan yang diberikan SDM tentang alasan penempatan saya.

Atau.

Ini imajinasi saya sendiri ya, bukan kenyataan. Just for fun, karena di saat-saat seperti ini justru saya harus bisa menertawakan lawakan saya sendiri. Jangan-jangan SDM salah baca nama saya. Oke! Bisa jadi pada saat rapat manajemen tentang Mapping Penempatan ini, manajemen ngga sadar bahwa INDRA adalah seorang cewek.  Dan situasinya seperti ini.

Orang pertamaIni di Balikpapan butuh seseorang dengan background Teknik.

Orang keduaOhh,,butuh Teknik ya. Mungkin sebaiknya cowok, karena akan ditempatkan di Luar Jawa. Saya akan carikan Profile yang tepat buat bapak. Sebentar.

*lalu orang kedua itu melihat Profile keenampuluh calon karyawannya, danmaybe (and i dont know why) pada saat mencari, telunjuknya berhenti di nama Indrawati Yustisiana, yang mana fokus penglihatannya pada saat itu hanya tertuju pada huruf I.N.D.R.A. dan dia menyimpulkan bahwa INDRA adalah cowok-dengan-background-Teknik.

[Watdehel deh kalo ini emang kejadian bener! Hahaha]

Orang keduaYang ini sepertinya pas, Pak. Namanya Indra, backgroundnya Teknik.

Orang pertamaOke…Indra akan kita tempatkan di Balikpapan.

Hey!!! Nama saya Indrawati. Please..mana ada siy orang namanya Indrawati tapi dia berjenis kelamin laki-laki. Oke..! kalo memang ada, bawa orang itu kehadapan saya, dan saya rela memberikan uang penempatan saya. Seluruhnya.

*hahahahahaha

Yaa, saya tahu. Ini semua sudah ada yang mengatur.

Tuhan yang mengatur.

Honestly, saya masih merasakan dua perasaan yang saling bertolak belakang. Sedih dan senang. Lagi-lagi. Saya sedih karena harus berpisah dengan Lima-Puluh-Sembilan-Orang-Luar-Biasa, yang selama kurang lebih 3 bulan ini menemani hari-hari saya. Senang karena kehidupan baru menanti saya di Balikpapan. Saya inget banget, bahwa doa saya kepada Tuhan jarang sekali meminta sesuatu yang spesifik. Doa tentang penempatan ini pun, saya hanya bilang sama Tuhan,

”Tuhan, saya sadar bahwa saya tidak memiliki hak untuk mengatur kehendakMu. Jadi dimanapun nantinya saya ditempatkan, saya yakin itu adalah tempat yang terbaik dan luar biasa buat saya.”

Again and again, saya akan selalu bilang. Kita bisa minta apa saja kepada Tuhan, apaa saja. Tapi dengan catatan, hanya Tuhanlah yang tahu keseluruhan jalan hidup kita. Jadi pada saat kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan, Tuhan tahu pasti bahwa apa yang kita inginkan tersebut bukanlah apa yang kita butuhkan.

Everybody’s Care For Me.

Banyak teman yang memberikan semangat dan berusaha membesarkan hati saya. Ada yang simpati. Ada juga yang menangisi kepergian saya. Dan banyak yang harus berbesar hati untuk merelakan kepindahan saya ke Balikpapan.And that’s makes me realize that I am still being everybody’s sweetheart.

Enough.

Last but not least, ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Angkatan XXXI, Lima-Puluh-Sembilan-Orang-Luar-Biasa.

Dan untuk satu orang yang terasa lebih special di hati ini :)  You are the story, and I’m not going to delete you.  It feels nice because finally we can do our heart-to-heart conversation.

Cheers,

Indrawati Yustisiana

someone who will become Balikpapan citizens -

Saya dan kamu pasti punya cita-cita. Iya kamu! Kamu yang lagi baca tulisan ini. Pasti punya cita-cita? Iya ngga? Iya kan? Iya dong? Kalo cita-cita saya banyak banget.

Saya pengen punya enam orang anak. Yes! It’s SIX!

Kenapa enam? Ada apa dengan enam? Well..enam adalah tanggal lahir saya, enam adalah nomor rumah saya, dan enam adalah adalah kelas dimana saya pertama kali mengalami menstruasi..yup! kelas enam *mulai ngga nyambung* Oke, sekarang serius niy! Saya tidak bisa menemukan alasan yang tepat untuk menjelaskan angka tersebut, intinya adalah saya pengen punya keluarga (yang) besar, biar rame! Hihihi. Pengennya sih dari keenam anak itu, 3 cewek-3 cowok, atau ya 2 cewek-4 cowok asal anak ceweknya jangan kebanyakan. Ya ngerti sendirilah, anak cewek kan budget-nya lebih gede. Waktu masih kecil, kalo pake baju pink, ntar sepatunya kudu pink, trus bandonya juga pink, belum lagi anting-antingnya. Iya kan? Harus matching dong.. tapi kalo anak cowok kan bedaaa, tinggal pakein kaos oblong ama celana doang (dan ngga perlu matching atas-bawah) beres dah! Itu kalo masih kecil, ntar pas gedean dikit, yang cewek mulai deh menstruasi, beli pembalut, trus dalemannya juga atas bawah kan (enak cowok bawah doang). Trus yaa..masalah daleman itu, kalo yang bawah warna merah, yang atas juga harus merah. Kalo yang bawah motifnya bunga2, yang atas juga ngga mau kalah pengen eksis, kudu motif bunga2 juga. Intinya harus satu pasangan! Nah itu apa ngga ngabisin duit coba? Belum alat make-up nya ntar. Untuk bagian mata aja niy, ada yang namanya maskara buat bulu mata, ada….eitss tunggu dulu, maskara juga macem2 jenisnya, ada yang buat melentikkan bulu, buat mempertebal bulu, ada juga yang buat memberikan efek panjang pada bulu mata! Hhmm..oke masih sekitar mata, ada pensil alis buat…apa yaa…gunanya pensil selain untuk menulis ya pasti menggambar, jadi pensil alis dibuat untuk menggambar alis..*lahh,,emang si alis lari kemana koq sampe kudu digambar* Ada juga pensil mata, fungsinya sama siy, untuk menggambar mata *hahaha* engga koq..pensil mata itu buat mempertegas bentuk mata aja, jadi untuk yang punya mata bentuknya agak2 oriental gimanaa gituu..pake deh pensil mata! Masih banyak lagi deh alat make-up cewek, lama2 jadi ngelantur niy cerita saya..padahal bukan ini inti ceritanya!

Oke..kembali ke topik tentang enam orang anak. Saya sadar jadi orang tua itu bukan hal yang sepele, ngga sekedar memberikan contoh bagi anak dan beres! Ngga gitu doang. Saya belajar dari mama-papa, kakek-nenek dan orangtua2 lain, dan pastinya saya belajar banyak dari ‘Nanny 911’ (ini acara favorit saya). Jadi orang tua itu melelahkan, tapi itu sama sekali ngga menyurutkan niat saya untuk punya anak banyak. Bodo amat pokoknya nanti saya ngga akan ikut program KB sampe anak saya nyampe jumlah enam! Saya serius! *ngeriii* Yang ada dibanyangan saya saat ini niy, kayaknya menyenangkan banget kalo ada enam anak nantinya, pergi rame2, makan rame2. Salah satu film kesukaan saya, ‘Cheaper by the Dozen’ yang punya anak duabelas biji itu, menyenangkan banget. Ohh oke.,kamu bilang itu Cuma di film aja kan.,ntar saya buktikan yaa, kalo itu bener2 ada di kehidupan nyata, dan itu adalah kehidupan saya nanti *amin* yang jelas ngga sampe punya anak 12 koq, cukup setengah lusin aja. Case closed!

Nah..selama ini kan yang saya bayangkan pasti yang enak2 doang tentang enam orang anak itu. Sampe suatu hari saya pergi ke toko buku deket rumah, mau beli kertas gitu ceritanya. Pas udah nyampe kasir, kan ngantri dulu dong sebagai warga indonesia yang baik. Kebetulan tempat kasirnya itu deket ama rak tempat pensil dan disitu ada keluarga yang lagi ribut (banget!). ada bapak, ibu, tiga orang anak yang kayaknya gedenya hampir sama, menurut saya siy umur mereka 8,6, ama 4 tahun gitu. Sayup2 (ngga sayup2 siy, orang mereka ribut gitu) terdengar percakapan mereka berlima yang pake bahasa jawa-campur-surabaya. Ini udah saya terjemahin.

Anak-Tiga (cewek): bu..aku yang warna pink itu..

Trus sama si mbak penjaga diambilin yang warna pink, eh si anak ngerengek ngga mau, soalnya selain mau yang warna pink, dia mau yang ada gambar hello-kitti. Dituker lagi dah, kali ini dapet deh yang pink dan bergambar hello-kitti. Tapii…harganya dua kali lipat dari yang pertama tadi. Trus..ibu nya mulai deh angkat bicara.

Ibu: yang tadi aja ya nduk, lebih bagus, resletingnya banyak, banyak kantongnya lagi. (alasan doang, padahal dalam hati pengen bilang “yang tadi aja ya, lebih murah, udah tanggal tua nih..” *hahaha*

Si Anak-Tiga manggut2 doang, ya gpp deh yang penting warna pink, ntar dirumah dikasih tempelan hello-kitti kan beres, gitu kali ya mikirnya *sok tau banget deh saya* Alhasil ibu dan anak itu ngantri di belakang saya, tiba2 dateng tuh kakak2-nya. Kita panggil Anak-Satu (cowok) dan Anak-Dua (cowok juga). Anak-Satu ngeliat Anak-Tiga bawa tempat pensil yang warna ngejreng itu, langsung deh ngga pake ijin si ibu, Anak-Satu langsung melengos ke rak tempat pensil yang memang ada di deket situ, diikuti oleh adiknya yaitu Anak-Dua.

Anak.Satu: Bu..aku yang ini yaahh..

Anak.Dua: aku mau yang ada gambar narutonya!!

Bapak dan ibu saling berpandangan miris. Mungkin maksud mereka cuma pengen beliin Anak-Tiga doang, lah ini kenapa dua bocah yang laen koq jadi ikut2an ngambil juga.

Bapak: ngga usah ya nduk, kan dirumah masih bagus!

Tapi dua bocah itu masih asyik milih2 sambil nunjuk2 yang ini, yang itu, tau deh! Saya Cuma ngeliatin doang, dan menurut saya mereka MEMANG BERISIK! NGGANGGU BANGET!

Pernah lagi saya ke salah satu departmen store, lagi di bagian baju2 cewek niy ceritanya. Yang ini lebih dahsyat lagi, anaknya ada empat dan cowok semua. Ngebanyangin ngga gimana suasananya. Ibunya asyik milih2 baju, bapaknya entah kemana ngga keliatan batang idungnya, dan mereka berempat lari2an di sekitar ibunya yang lagi asyik sendiri *si ibu sok cuek deh* tiba2 anak yang paling kecil itu jatuh, dan tangisannya buseett…kenceng banget! Gitu ya, kakak2nya ngga ada yang nolongin, mereka trusss aja lari2an ngga jelas. Anak yang itu guling2 di bawah sambil teriak2 manggil mamanya, sedangkan (yang udah saya bilang tadi) si Ibu masih sibuk dengan baju2 dan masih sok cuek. Ngga lama kemudian si Ibu akhirnya menghampiri anak guling, ehh..maksudnya anaknya yang lagi guling2 itu dan akhirnya mencubit anak yang paling gede yang mungkin dianggapnya bertanggung jawab atas kejadian itu, alhasil nambah satu lagi deh yang nangis, anak kecil dan anak besar. Semakin gaduh lah suasana di sana. Intinya adalah saya sangat (amat) merasa terganggu dengan suasana seperti itu, berisik banget! Tapi trus saya jadi mikir, itu baru tiga dan empat anak doang yaa..kalo enam gimana ndraa…?? *menghela nafass pasrah..*

Sebenarnya tulisan ini sudah lumayan lama saya buat, bahkan sebelum saya menulis “Catatan Seorang Fresh Graduate a.k.a Jobseeker”. Saya sadar suatu saat, hal ini pasti akan terjadi. Bahkan akan selalu terjadi pada setiap lingkaran pertemanan yang kita buat.

Benci menurut tulisan dalam Blog Gustini, artinya adalah sebuah emosi yang sangat kuat dan melambangkan ketidaksukaan, antipati untuk seseorang, sebuah hal, barang atau fenomena. Hal ini juga merupakan sebuah keinginan untuk, menghindari, menghancurkan dan menghilangkannya. Sejak lama saya memutuskan untuk tidak pernah membenci sesuatu, karena menurut Hukum Gaya Tarik, ‘Jika Kita Menarik (apalagi menyimpan) Energi Negatif Ke Dalam Tubuh Kita, Maka Secara Tidak Langsung Hal Itu Akan Menarik Energi Negatif Lainnya’. Yeachh..That’s why I wont hate something, or if it can be refused to hate, at least don’t let it last for more than three minutes.

Nah…tapi saya sampai detik ini ngga pernah bisa untuk Tidak Benci Sesuatu..

Sesuatu itu adalah Perpisahan, apalagi dengan teman-teman saya..

*mendadak mellow

Saat ini, detik ini, dini hari ini, tiba-tiba saja saya merasakan getaran kerinduan yang luar biasa dashyat. Saya jadi sering ketawa-ketawa sendiri ngeliatin foto-foto mereka, nginget-nginget kejadian-kejadian lucu bareng mereka, saat-saat bepergian rame-rame ke luar kota. Ohh..My God! I gotta admit that I really missed them..

Ya sudah, ngga usah bermellow-mellow lagi, yang bisa dilakukan hanya mengingat moment-moment yang tak tergantikan bareng mereka.

Dan akhirnya, malam ini sebelum saya memutuskan untuk mem-posting tulisan ini dalam blog. Saya menemukan satu kalimat yang sangat pas, yang sangat menggambarkan bagaimana suasana hati saya.

Guys and Gals..

I hate to see you go, but, i love to watch you leave..

Maksudnya, saya ngga suka melihat mereka satu persatu meninggalkan saya, tapi, saya senang karena pada akhirnya mereka meninggalkan saya (karena alasan yang sangat membanggakan). Mereka semua pergi untuk kehidupan yang lebih baik. Dimana nanti akan ada Indrawati Yustisiana yang lain untuk mereka.

Just want you to know guys,

I will always remember you..

all of you!

Pada suatu siang di siang bolong yang ngga terlalu siang sebenernya, hiduplah sepuluh orang bodoh yang bernama [urut abjad] Caca, Gary, Habib, Ibe, Indra, Mando, Mer, Seffy, Sita, dan Vici yang memutuskan untuk memancing bersama..Sehari sebelum hari-H, kesepuluh orang tersebut sudah merencanakan semuanya dengan sangat matang..

Habib : Rek..sumpek iki, rea reo ae tah?
9 orang bodoh lainnya : ekh..ekh..ekh..[tanda setuju]
Habib : Yo wes..sesuk ae yo..jam piro enake?
Vici : Isuk ae..tapi sak durunge sarapan sek..wong batak iku kudu sarapan[ngga bermaksud SARA]
Habib : Yo wes..jam 7 yo..njeblese paling yo jam8..
9 orang bodoh lainnya : Halah..delok ae sesuk yo opo!

perangai Habib : raja telat se-Indonesia Raya
perangai Vici : bujang Medan yang bangga dgn tai lalat di leher

Nah..tibalah hari yang sangat dinantikan oleh kesepuluh orang bodohtersebut. Janjian jam7, lah dalah..ngaret jadi jam9..entah kenapa? sesampainya di kolam pancing..kesepuluhan orang bodoh ‘ndeprok kabeh’ [translate : duduk lesehan] sambil mancing..

kebodohan no.1 : ngga bawa alas untuk duduk
dimulailah percakapan bodoh antara 3 orang terbodoh yaitu Habib, Indra dan Mer.
Indra : [dengan sok kritis bertanya pada dua sahabat bodohnya] eh rek..pancingannya ini kalo misalnya udah ketarik ama ikan nya, masak bisa nyemplung gitu aja siy?
Habib : [menjawab sambil ngupil] Yo iso lah, iwake lho kuat..
Mer : Iyo ndra..iso ae pancingane keseret2..

perangai Indra : ngga percaya kalo ngga liat dengan mata kepala sendiri

beberapa saat kemudian, sembari ketiga orang terbodoh itu mengobrol tentang beratnya ujian hidup di dunia ini, tiba2 pancingan yang ada di depan mata mereka MENCOLOT NGGA KARUAN.
Habib & Mer : Lho..iwake kenek [translate : ikannya kena]
Indra : Lho iyo rekk..
Habib & Mer : Waduhhh..pancingane keseret pek..yo opo iki [heboh] iku iku nang kono pancingane nyemplunge [sambil menunjuk ke arah kolam pancing yang jaraknya ngga kurang dari 1 meter]
Indra : Lho iyo rekk..
Mer : Ayo..Ibe, jupuken po’o pancingane
Ibe : [ngga pake ngomong, langsung terjun ke kolam untuk mencari pancingan di arah yang udah ditunjuk ama Habib dan Mer]
Caca : Bendoyo..koq iso nyemplung iku lho pancingane..??? Hadduhhh,,,KTP-ku alamat ilang iki..
Indra : Lho iyo rekk..
Vici : Waduhh…itu pancingannya udah sampe ke tengah kolam tuh, udah keseret ikannya!
Caca : KTP ku…KTP ku..KTP ku.. [pantes banget kalo dibilang orang bodoh, lah yang ilang kan pancingan, koq malah dia menangisi KTP nya..ahay]

perangai Mer : suka memanfaatkan teman [contoh : Ibe disuruh ngambil pancingan, kenapa ngga dia sendiri ya?]
perangai Ibe : autisme yang lama diidap di masa kecil akhirnya bersemi kembali
perangai Caca : sering mengangisi sesuatu yang ngga jelas

tidak lama setelah itu, tiba2 si ikan yang narik pancingan itu mendekat ke arah kita dan pada saat yang sama, Caca melihat nya dan reflek nyemplung ke kolam demi mendapatkan kembali apa yang telah ia tangisi. Sebuah Pancingan.
Caca : Wee,,iwake moro..[sembari nyemplung setengah kaki]
Indra : Lho iyo rekk..
Habib & Mer : Wahh..selamet Ca..KTP mu ngga jadi hilang!
Caca : KTP selamet..katokku lumpur thok! Wes bendoyo banget siy kalian!
Vici : Lho..koq iso yo iwake moro2 dewe..
Caca : Aarghh..Banyak Omong Kali Kau Bujaangg!!

ngga jauh dari keramaian itu, dua orang bodoh lainnya yaitu Mando dan Sita sedang asyik main masak-masakan layaknya anak SD.
Sita : Bang, mau beli apa bang?
Mando : Jahe anget ada ngga neng..biar abang kerasa anget serasa dipeluk ama eneng..

perangai Sita : polos nerawang2 piye ngono [wew?]
perangai Mando : mesum ngga ketulungan

waktu berjalan semakin cepat dan sampailah pada kebodohan Seffy. sebagian besar hidupnya dihabiskan di dunia metropolitan, dia ingin sesekali merasakan rasanya memancing. oke. umpan dipasang, kail dilempar, menunggu di dampingin orang bodoh lainnya, Mando.

Seffy : koq lama ya pancinganku ngga gerak2
Gary : sabar bu..
tiba-tiba..
Seffy : Lho..itu kenapa? [sambil nunjuk pancingannya yang mulai gerak2]
Mando : Tarik!! ikannya kena!
Seffy : Yaa..Lepas!

perangai Seffy : pasrah2 nggemesno piye ngonoo..

Mando : Oalah,,ilingo tujuanmu mrene iku opo? Mancing! Lha Lho Lha Lho ae..
Caca : Makane tah..nek mancing iku di-semak rek pancingane..
*jaman udah 3.5G tapi kata2 SEMAK masih eksis
walhasil ngga jadi dapet ikan..

dan sampailah penulis pada satu kesimpulan. dari kesepuluh orang bodoh itu, tersisa satu orang yang ternyata [dan memang] ngga bodoh. namanya Gary. Waseekk..!

Saya baru saja diwisuda seminggu yang lalu dan memutuskan untuk upload tulisan saya ini. Bisa disimpulkan kalau saya bener-bener fresh graduate, fresh from the oven, whatever you named it! Oiyah..di-wisuda itu rasanya menyenangkan lho, meskipun pada akhirnya terasa melelahkan (untuk cewek-cewek yang berkonde, termasuk saya) karena harus siap sedia di depan meja rias jam 4 pagi demi hari penting itu, yang akan terjadi sekali seumur hidup! Sebenarnya wisuda ini terasa kurang lengkap karena masih ada beberapa teman-teman saya yang memutuskan untuk wisuda semester depan. Oke lah,,ngga mengurangi esensi wisuda itu koq. Saya cuma ingin merasakan kebahagiaan ini bersama mereka seutuhnya. Jiaahh…bahasanya! hahahaha

Sedikit saja cerita tentang wisuda karena inti dari tulisan ini ada sekelumit pengalaman saya waktu ikut tahapan tes salah satu BUMN yang menjanjikan di Indonesia. Jadi..untuk bisa diterima menjadi bagian dari perusahaan yang mendaulat dirinya sebagai Indonesia’s Brightest Future itu, kalian yang berminat untuk mendaftar harus melalui serangkaian tes yang berlapis-lapis yang terdiri dari 6 tahap. Nanti deh saya jelaskan satu-satu tentang tahapan tesnya. Saya mendaftar ke perusahaan ini di Jogja dalam rangka Career Days UGM sekalian liburan sama teman-teman setelah bergulat dengan sidang Tugas Akhir dan pengurusan Yudisium. Saya ngga ngitung sih berapa banyak manusia yang mendaftar ke perusahaan ini, tapi yang jelas jumlahnya ratusan deh, antrian waktu proses pendaftaran aja mengular meliuk-liuk sampe ngga jelas arahnya. Dan saya juga sempet ngitung berapa jumlah manusia yang lolos di tiap tahapan seleksinya, jadi saya bisa kasih bocoran tentang persentase tidak lolos.

Tes tahap I adalah seleksi administrasi. Memang persyaratan yang diajukan untuk mendaftar sedikit berbeda jika dibandingkan dengan perusahaan lain, selain CV dan Lamaran, harus menyertakan surat keterangan sehat dan tidak buta warna. Insyaallah kalo persyaratan lengkap, pasti bakalan dipanggil untuk tes tahap II.

Tes tahap II adalah semacam tes potensi akademik gitu, ya yang biasa kita jumpai kalo tes IQ. Ada tes padan makna, tes deret huruf, tes analogi verbal, tes identifikasi dan lain-lain. Menurut catatan saya, yang tidak lolos waktu tes tahap ini sebesar 22%, kalau kalian sering latihan (banyak tuh buku-buku latihannya) insyaallah lulus, yang penting waktu ngerjainnya santai tapi jangan nyantai, karena artinya beda lho..hehehe

Tes tahap III adalah tes TOEFL dan tes akademik. Tes TOEFL ya begitulah, apa yang mau dijelaskan. Menurut saya sih skor TOEFL yang diminta standar, perkiraan saya siy di atas 450 saja atau bisa jadi 500. Perusahaan ini ngga pernah bilang tentang standar yang mereka mau. Saran saya sebelum tes TOEFL hendaknya ke kamar mandi dulu, sekedar untuk sisiran, buang air kecil atau buang air besar mungkin. Menurut pengalaman saya waktu tes TOEFL, saya mengerjakan dalam keadaan pengen buang air besar dan ngantuk yang amat sangat sampai salah buka lembaran pertanyaan waktu tes listening. Sebenernya sebelum tes dimulai pengen buang air besar, tapi kamar mandinya RAME GILA..jadi malu kan kalo mau buang hajat! Dan karena hal ini saya menghujat habis-habisan untuk masakan Padang yang saya makan untuk sahur (waktu itu pas bulan Ramadhan). Untuk tes akademik, soal-soal sesuai dengan bidang minat yang kalian lamar. Contohnya saya kan lulusan Teknik Industri, yang bidang minatnya itu satu rumpun sama mereka lulusan Ekonomi, bisa dari jurusan Manajemen dan Akutansi. Jadi pertanyaannya kebanyakan nanya tentang ekonomi. Yang paling nyebelin dan saya ingat banget adalah pertanyaan “Apa perbedaan antara Akutansi Manajemen dan Akutansi Manajerial?” waduh,,oke saya lulusan Teknik yang bisa dibilang ngga terlalu teknik, waktu kuliah dulu memang ada mata kuliah Analisa Biaya dan Ekonomi Teknik. Tapi kalau dikasih pertanyaan seperti itu, walhasil saya cuma bisa ngitung kancing karena [untungnya] jawabannya bisa milih. Dan yang lebih bersyukur lagi, untung saya waktu tes memakai kemeja yang berkancing, untung ngga pake daster..hihihihihi! Oiyah yang tidak lolos waktu tes tahap ini sebesar 38%

Tes tahap IV adalah Psikotes dan diskusi kelompok. Diawali dengan diskusi kelompok, jadi saya dikelompokkan dengan 8 orang yang nantinya diberi permasalahan yang bertujuan untuk mengetahui bagaimana cara kita berpendapat. Yang penting disini adalah jangan terlihat ngotot dan mau menang sendiri, sampaikan pendapat dengan percaya diri dan santai. Diskusi yang berlangsung 20-30 menit itu akan disimak oleh dua orang dari tim penilai. Jadi kita Cuma berdiskusi layaknya orang rapat. Saya sempet minder lho pas keluar dari ruangan diskusi, soalnya orang-orang tadi bahasanya beneran kayak orang lagi rapat. Pake kata-kata ’saudara’, ’anda’, sedangkan saya kadang-kadang masih pake kata ’mas’ dan ’mbak’.. hihihiihi

Psikotes yang saya ingat ya Cuma menggambar, untung saya suka dan bisa menggambar. Sekedar suka lho, suka menggambar belum tentu pintar menggambar. Yang tidak lolos waktu tes tahap ini sebesar 37%. Ternyata juga ada tes yang saya nantikan. It was the first time saya merasakan yang namanya Tes Pauli. Dan wow..sensasinya luar biasa ya, saya terharu seperti dinobatkan jadi Putri Indonesia karena kertasnya penuh dengan angka (yang mengingatkan saya dengan mata kuliah Kalkulus dan Matematika Rekayasa), saya minder (lagi) karena begitu ada aba-aba boleh memulai untuk mengerjakan, manusia disebelah saya (yang kebetulan namanya sama dengan saya) mengerjakan tes itu kayak orang kesurupan, apalagi waktu dia membalikkan halaman, padahal waktu itu saya baru dapet setengah halaman, saya beberapa kali kehilangan konsentrasi karena mikirin manusia di sebelah saya itu benerang ngitung atau ngawur siy…hahahahha

Tes tahap V adalah tes kesehatan. Tes kesehatannya detail banget deh. Saya sudah membayangkan hal-hal yang mengerikan pada saat teman-teman dari kamar sebelah, anak-anak elektro ITS yang dapet giliran tes kesehatan hari pertama menceritakan pengalaman mereka. Waktu periksa fisik dokter mereka cerita akan ada pencolokan (maaf) dubur. Wew? Saya cuma bisa meringis siy ngebayanginnya tapi ini cerita jadi agak rancu, entah ini cerita nakut-nakutin atau prihatin, soalnya mereka bercerita sambil cengengesan. Saya jadi ngga bisa membedakan itu cerita menyakitkan atau menyenangkan? Hahahaha

Yang tidak lolos waktu tes tahap ini sebesar 68%  dan saya termasuk di dalamnya. Perjalanan saya cuma sampai di tahap ini saja setelah tiga hari yang lalu i couldn’t find my name on the list. Bagian yang bikin saya sedih adalah pertama, mengetahui bahwa saya tidak cukup sehat untuk lolos tes kesehatan, atau dengan kata lain kesehatan saya tidak sesuai dengan kualifikasi yang ditetapkan perusahaan ini. Memang ngga ada keterangan yang jelas mengenai standar sehat yang dimaui oleh perusahaan ini, but it wasn’t a big deal for me. Ini seperti alarm yang berbunyi dalam kehidupan saya, berarti ada kemungkinan, something wrong with my body – my health.

Dan yang kedua adalah berapa banyak duit Mama Papa yang selalu setia memberikan uang saku, yang saya gunakan untuk bolak-balik-bolak (saking seringnya bolak balik) Surabaya-Jogja dan tetek bengeknya itu. Mama Papa yang selalu mendoakan dan mengingatkan. I don’t know what they’re thinking. Saya yakin mereka ngga kecewa karena hal ini, cuma agak mempertanyakan karena selama ini Mama Papa menilai saya sudah menjalani hidup sehat, meskipun olahraga cuma seminggu sekali dan ikut volley cuma pas acara TI Days saja..hihihi. Tapi saya janji satu hal, saya janji sama diri saya sendiri, dan kalian yang membaca blog ini akan menjadi saksi bisu dari janji saya. Semua bentuk dukungan baik moril dan spiritual dari Mama Papa akan saya bayar lunas dengan cara membahagiakan mereka dengan uang hasil kerja keras saya sendiri. Wow..! Menyenangkan bukan?

Tes tahap terakhir adalah wawancara. Kata orang-orang sih, kalo sudah sampe tahap wawancara insyaallah lancar deh. Selamat buat yang sudah sampai di tahap ini!

Setelah kalian baca tulisan saya di atas, saya memang sengaja tidak menggunakan kata GAGAL. Karena bagi saya, itu bukan kegagalan, dan itu juga bukan masalah keberuntungan. Seperti yang selalu saya tekankan pada teman-teman saya, dan akan selalu saya katakan..Keberuntungan itu tidak ada! Oops..sorry, saya ralat! Oke,,Keberuntungan itu ada. Tapi kita butuh dua hal untuk bisa mendapatkan apa yang banyak orang sebut dengan keberuntungan itu. Kita butuh Usaha dan Kesempatan!

Usaha + Kesempatan = Keberuntungan

Setuju? :)

Bahasa Jawa

Cerita 1. Gangsal Welas

Waktu saya jalan-jalan sendirian di sepanjang jalan Malioboro, sendirian karena temen-temen yang tadinya ada, udah pada balik duluan. Saya memutuskan untuk hunting aksesoris yang vintage dan murah. Akhirnya ngeliat anting-anting, berhentilah saya di depan ibu penjualnya. Gosipnya niy, kalo di Malioboro itu nawarnya kudu pake bahasa Jawa biar ngga dikasih mahal. Saya bisa siy bahasa Jawa, tapi bahasa Jawanya orang Surabaya itu lho alias bahasa Jawa Timuran alias bahasa Jawa ngoko, kalo bahasa Jawa krama saya ngga bisa. Bermodalkan bahasa Jawa Timuran, saya coba menawar harga anting-anting itu.

Oke Ndra, saatnya tes TOJOL (Test of Javanese as Our Language). :D

Saya : Niki pinten bu? [ini berapaan bu?]

Ibu Penjual : Gangsal welas..

Saya : !@#$%^&*!#$%^

Ibu Penjual :  Saged ditawar koq mbak [bisa ditawar koq mbak]

Saya sibuk mikirin ‘gangsal welas’ itu berapaa..??? delapan belas atau lima belas ya? Haduh,,masa nanya ke ibu penjualnya siy..gengsi dong,,tadi kan awalnya udah pake bahasa Jawa krama. Berhubung saya yakin kalo ‘gangsal welas’ adalah ‘sekian belas ribu rupiah’ which is lebih mahal dari sepuluh ribu, saya nawar jadi sepuluh ribu aja deh. Tapi jadi mikir lagi, sepuluh ribu itu bahasa Jawa krama nya berapa ya? Masa ‘sepuluh ewu’. Emang boleh ya kalo pihak satu ngomong pake bahasa Jawa krama trus pihak kedua ngomong pake bahasa Jawa ngoko. Ah bodo amat! Yang penting pake bahasa Jawa deh.

Pas udah sampe dirumah, langsung saya nanya ke Mama, dan ternyata gangsal welas adalah lima belas ribu. Akan selalu saya ingat, gangsal adalah lima. Yes!

Kirain ‘gangsal’ itu nama judul film horor, itu lho ‘Gangsal Limabelas’

[itu Bangsal yahh..hahahahaha]

Cerita 2. Mbenjing

Baru-baru ini saya mengurus perpanjangan SIM di Polres Sidoarjo. Ya biasalah yang namanya ngurus begituan pastilah ribet nan riweh. Habis dari sini ke sini, trus ke sana, trus ke situ, dan seterusnya. Sampailah saya di Loket Entry Data. Berhubung saya datengnya udah agak siangan, jadi semua orang yang mau mengurus SIM hari itu dibatasi sampe jam 11 aja, saya udah mepet jam 11 nih, tapi coba aja deh, nekat, siapa tau masih boleh. Oke Ndra, basa basi dulu lah..

Saya : Pak, kalo perpanjangan SIM itu ngga usah pake tes kan?

Bapak Polisi Berkumis Lebat : Inggih mbak.. [iya mbak]

Saya : Saya mau perpanjangan SIM pak, udah tes kesehatan koq..ini berkasnya.

Bapak Polisi Berkumis Lebat : Mboten saged sak niki mbak, Mbenjing mawon nggih.. [ngga bisa sekarang mbak, …………]

Saya : !@#$%^*()!#$%^*

Saya bengong, Bapak Polisi Berkumis Lebat pun ikut bengong ngeliatin saya ngga beranjak dari loket itu. Saya ngerti inti dari kalimat terakhir Bapak itu adalah, saya tidak bisa mengurus SIM sekarang karena sudah siang, Tapi apakah yang dimaksud dengan kata ‘mbenjing’.

Oke Ndra, inisiatif bertanya lah dulu, daripada sesat di hutan.

Saya : Pak, ngga bisa sekarang kenapa?

Bapak Polisi Berkumis Lebat : Udah siang mbak..

Saya : Trus kapan?

Bapak Polisi Berkumis Lebat : Mbenjing mbak! Besok! Besok!

Oalaahh…Mbenjing itu artinya besok. Yang saya tau ‘mbenjing’ itu ibukota China

[itu Beijing yahh..hahahahaha]

Cerita 3. Sedoso

Pulang dari Polres Sidoarjo itu, saya memutuskan untuk membeli kerupuk upil yang ada di pinggir jalan. Berhubung ngga tau mana penjual yang bonafit, saya pilih penjual yang rame aja. Banyak ibu-ibu lagi ngupil disitu alias makan kerupuk upil. Yee..ibu-ibu ini ngga puasa. Seperti biasa, kalo ngadepin penjual saya selalu pake bahasa Jawa krama andalan yaitu “Niki Pinten Pak?”

Oke Ndra, saatnya tes TOJOL (Test of Javanese as Our Language) lagi.

Saya : niki pinten pak? [ini berapa pak]

Bapak Penjual : Sekawan ewu mbak..

Yesss..!! saya tau artinya sekawan. Sekawan artinya empat, karena dulu ada grup lawak yang namanya empat sekawan.

*Bangga bisa tau artinya sekawan

Saya : Mboten saged kurang tho pak? [ngga bisa kurang pak?]

Bapak Penjual : Nggih,,pinten mbak? [bisa..berapa mbak?]

Saya : rong èwu nggih.. [dua ribu ya]

Bapak Penjual : Nambah malih mbak..Sedoso sekawan mawon nek purun.. [nambah lagi mbak, ………..aja kalo mau]

Haahh? Angka baru nih ya ‘Sedoso Sekawan’. Mati dah. Oke, mari dianalisis. Sekawan artinya empat, kalo sedoso berapa? Apakah ‘sedoso sekawan’ artinya ‘empat ratus’. Jadi si Bapak Penjual minta aku tambahin empat ratus rupiah gitu? Ya sudah lah akhirnya saya pasrah saja, berapapun harganya kerupuk upil kesukaan saya itu, saya tetep mau beli. Saya ngeluarin duit sepuluh ribu. Sama si Bapak Penjual di kasih empat bungkus kerupuk upil.

Bapak Penjual : Duite pas Sedoso nggih..Matursuwun..

Oalaahh…Sedoso itu artinya sepuluh. Yang saya tau ‘sedoso’ itu nama hari setelah hari senin

[itu Seloso yahh..hahahahaha]

The girl who seemed unbreakable…

Broke..

The girl who seemed so strong…

Crumbled..

The girl who always laughed it…

Cried..

The girl who would never stop trying…

Finally quit..

Maybe she is tired..

Older Posts »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.