Saya baru saja diwisuda seminggu yang lalu dan memutuskan untuk upload tulisan saya ini. Bisa disimpulkan kalau saya bener-bener fresh graduate, fresh from the oven, whatever you named it! Oiyah..di-wisuda itu rasanya menyenangkan lho, meskipun pada akhirnya terasa melelahkan (untuk cewek-cewek yang berkonde, termasuk saya) karena harus siap sedia di depan meja rias jam 4 pagi demi hari penting itu, yang akan terjadi sekali seumur hidup! Sebenarnya wisuda ini terasa kurang lengkap karena masih ada beberapa teman-teman saya yang memutuskan untuk wisuda semester depan. Oke lah,,ngga mengurangi esensi wisuda itu koq. Saya cuma ingin merasakan kebahagiaan ini bersama mereka seutuhnya. Jiaahh…bahasanya! hahahaha
Sedikit saja cerita tentang wisuda karena inti dari tulisan ini ada sekelumit pengalaman saya waktu ikut tahapan tes salah satu BUMN yang menjanjikan di Indonesia. Jadi..untuk bisa diterima menjadi bagian dari perusahaan yang mendaulat dirinya sebagai Indonesia’s Brightest Future itu, kalian yang berminat untuk mendaftar harus melalui serangkaian tes yang berlapis-lapis yang terdiri dari 6 tahap. Nanti deh saya jelaskan satu-satu tentang tahapan tesnya. Saya mendaftar ke perusahaan ini di Jogja dalam rangka Career Days UGM sekalian liburan sama teman-teman setelah bergulat dengan sidang Tugas Akhir dan pengurusan Yudisium. Saya ngga ngitung sih berapa banyak manusia yang mendaftar ke perusahaan ini, tapi yang jelas jumlahnya ratusan deh, antrian waktu proses pendaftaran aja mengular meliuk-liuk sampe ngga jelas arahnya. Dan saya juga sempet ngitung berapa jumlah manusia yang lolos di tiap tahapan seleksinya, jadi saya bisa kasih bocoran tentang persentase tidak lolos.
Tes tahap I adalah seleksi administrasi. Memang persyaratan yang diajukan untuk mendaftar sedikit berbeda jika dibandingkan dengan perusahaan lain, selain CV dan Lamaran, harus menyertakan surat keterangan sehat dan tidak buta warna. Insyaallah kalo persyaratan lengkap, pasti bakalan dipanggil untuk tes tahap II.
Tes tahap II adalah semacam tes potensi akademik gitu, ya yang biasa kita jumpai kalo tes IQ. Ada tes padan makna, tes deret huruf, tes analogi verbal, tes identifikasi dan lain-lain. Menurut catatan saya, yang tidak lolos waktu tes tahap ini sebesar 22%, kalau kalian sering latihan (banyak tuh buku-buku latihannya) insyaallah lulus, yang penting waktu ngerjainnya santai tapi jangan nyantai, karena artinya beda lho..hehehe
Tes tahap III adalah tes TOEFL dan tes akademik. Tes TOEFL ya begitulah, apa yang mau dijelaskan. Menurut saya sih skor TOEFL yang diminta standar, perkiraan saya siy di atas 450 saja atau bisa jadi 500. Perusahaan ini ngga pernah bilang tentang standar yang mereka mau. Saran saya sebelum tes TOEFL hendaknya ke kamar mandi dulu, sekedar untuk sisiran, buang air kecil atau buang air besar mungkin. Menurut pengalaman saya waktu tes TOEFL, saya mengerjakan dalam keadaan pengen buang air besar dan ngantuk yang amat sangat sampai salah buka lembaran pertanyaan waktu tes listening. Sebenernya sebelum tes dimulai pengen buang air besar, tapi kamar mandinya RAME GILA..jadi malu kan kalo mau buang hajat! Dan karena hal ini saya menghujat habis-habisan untuk masakan Padang yang saya makan untuk sahur (waktu itu pas bulan Ramadhan). Untuk tes akademik, soal-soal sesuai dengan bidang minat yang kalian lamar. Contohnya saya kan lulusan Teknik Industri, yang bidang minatnya itu satu rumpun sama mereka lulusan Ekonomi, bisa dari jurusan Manajemen dan Akutansi. Jadi pertanyaannya kebanyakan nanya tentang ekonomi. Yang paling nyebelin dan saya ingat banget adalah pertanyaan “Apa perbedaan antara Akutansi Manajemen dan Akutansi Manajerial?” waduh,,oke saya lulusan Teknik yang bisa dibilang ngga terlalu teknik, waktu kuliah dulu memang ada mata kuliah Analisa Biaya dan Ekonomi Teknik. Tapi kalau dikasih pertanyaan seperti itu, walhasil saya cuma bisa ngitung kancing karena [untungnya] jawabannya bisa milih. Dan yang lebih bersyukur lagi, untung saya waktu tes memakai kemeja yang berkancing, untung ngga pake daster..hihihihihi! Oiyah yang tidak lolos waktu tes tahap ini sebesar 38%
Tes tahap IV adalah Psikotes dan diskusi kelompok. Diawali dengan diskusi kelompok, jadi saya dikelompokkan dengan 8 orang yang nantinya diberi permasalahan yang bertujuan untuk mengetahui bagaimana cara kita berpendapat. Yang penting disini adalah jangan terlihat ngotot dan mau menang sendiri, sampaikan pendapat dengan percaya diri dan santai. Diskusi yang berlangsung 20-30 menit itu akan disimak oleh dua orang dari tim penilai. Jadi kita Cuma berdiskusi layaknya orang rapat. Saya sempet minder lho pas keluar dari ruangan diskusi, soalnya orang-orang tadi bahasanya beneran kayak orang lagi rapat. Pake kata-kata ’saudara’, ’anda’, sedangkan saya kadang-kadang masih pake kata ’mas’ dan ’mbak’.. hihihiihi
Psikotes yang saya ingat ya Cuma menggambar, untung saya suka dan bisa menggambar. Sekedar suka lho, suka menggambar belum tentu pintar menggambar. Yang tidak lolos waktu tes tahap ini sebesar 37%. Ternyata juga ada tes yang saya nantikan. It was the first time saya merasakan yang namanya Tes Pauli. Dan wow..sensasinya luar biasa ya, saya terharu seperti dinobatkan jadi Putri Indonesia karena kertasnya penuh dengan angka (yang mengingatkan saya dengan mata kuliah Kalkulus dan Matematika Rekayasa), saya minder (lagi) karena begitu ada aba-aba boleh memulai untuk mengerjakan, manusia disebelah saya (yang kebetulan namanya sama dengan saya) mengerjakan tes itu kayak orang kesurupan, apalagi waktu dia membalikkan halaman, padahal waktu itu saya baru dapet setengah halaman, saya beberapa kali kehilangan konsentrasi karena mikirin manusia di sebelah saya itu benerang ngitung atau ngawur siy…hahahahha
Tes tahap V adalah tes kesehatan. Tes kesehatannya detail banget deh. Saya sudah membayangkan hal-hal yang mengerikan pada saat teman-teman dari kamar sebelah, anak-anak elektro ITS yang dapet giliran tes kesehatan hari pertama menceritakan pengalaman mereka. Waktu periksa fisik dokter mereka cerita akan ada pencolokan (maaf) dubur. Wew? Saya cuma bisa meringis siy ngebayanginnya tapi ini cerita jadi agak rancu, entah ini cerita nakut-nakutin atau prihatin, soalnya mereka bercerita sambil cengengesan. Saya jadi ngga bisa membedakan itu cerita menyakitkan atau menyenangkan? Hahahaha
Yang tidak lolos waktu tes tahap ini sebesar 68% dan saya termasuk di dalamnya. Perjalanan saya cuma sampai di tahap ini saja setelah tiga hari yang lalu i couldn’t find my name on the list. Bagian yang bikin saya sedih adalah pertama, mengetahui bahwa saya tidak cukup sehat untuk lolos tes kesehatan, atau dengan kata lain kesehatan saya tidak sesuai dengan kualifikasi yang ditetapkan perusahaan ini. Memang ngga ada keterangan yang jelas mengenai standar sehat yang dimaui oleh perusahaan ini, but it wasn’t a big deal for me. Ini seperti alarm yang berbunyi dalam kehidupan saya, berarti ada kemungkinan, something wrong with my body – my health.
Dan yang kedua adalah berapa banyak duit Mama Papa yang selalu setia memberikan uang saku, yang saya gunakan untuk bolak-balik-bolak (saking seringnya bolak balik) Surabaya-Jogja dan tetek bengeknya itu. Mama Papa yang selalu mendoakan dan mengingatkan. I don’t know what they’re thinking. Saya yakin mereka ngga kecewa karena hal ini, cuma agak mempertanyakan karena selama ini Mama Papa menilai saya sudah menjalani hidup sehat, meskipun olahraga cuma seminggu sekali dan ikut volley cuma pas acara TI Days saja..hihihi. Tapi saya janji satu hal, saya janji sama diri saya sendiri, dan kalian yang membaca blog ini akan menjadi saksi bisu dari janji saya. Semua bentuk dukungan baik moril dan spiritual dari Mama Papa akan saya bayar lunas dengan cara membahagiakan mereka dengan uang hasil kerja keras saya sendiri. Wow..! Menyenangkan bukan?
Tes tahap terakhir adalah wawancara. Kata orang-orang sih, kalo sudah sampe tahap wawancara insyaallah lancar deh. Selamat buat yang sudah sampai di tahap ini!
Setelah kalian baca tulisan saya di atas, saya memang sengaja tidak menggunakan kata GAGAL. Karena bagi saya, itu bukan kegagalan, dan itu juga bukan masalah keberuntungan. Seperti yang selalu saya tekankan pada teman-teman saya, dan akan selalu saya katakan..Keberuntungan itu tidak ada! Oops..sorry, saya ralat! Oke,,Keberuntungan itu ada. Tapi kita butuh dua hal untuk bisa mendapatkan apa yang banyak orang sebut dengan keberuntungan itu. Kita butuh Usaha dan Kesempatan!
Usaha + Kesempatan = Keberuntungan
Setuju?
últimos Comentarios