Saya baru saja diwisuda seminggu yang lalu dan memutuskan untuk upload tulisan saya ini. Bisa disimpulkan kalau saya bener-bener fresh graduate, fresh from the oven, whatever you named it! Oiyah..di-wisuda itu rasanya menyenangkan lho, meskipun pada akhirnya terasa melelahkan (untuk cewek-cewek yang berkonde, termasuk saya) karena harus siap sedia di depan meja rias jam 4 pagi demi hari penting itu, yang akan terjadi sekali seumur hidup! Sebenarnya wisuda ini terasa kurang lengkap karena masih ada beberapa teman-teman saya yang memutuskan untuk wisuda semester depan. Oke lah,,ngga mengurangi esensi wisuda itu koq. Saya cuma ingin merasakan kebahagiaan ini bersama mereka seutuhnya. Jiaahh…bahasanya! hahahaha

Sedikit saja cerita tentang wisuda karena inti dari tulisan ini ada sekelumit pengalaman saya waktu ikut tahapan tes salah satu BUMN yang menjanjikan di Indonesia. Jadi..untuk bisa diterima menjadi bagian dari perusahaan yang mendaulat dirinya sebagai Indonesia’s Brightest Future itu, kalian yang berminat untuk mendaftar harus melalui serangkaian tes yang berlapis-lapis yang terdiri dari 6 tahap. Nanti deh saya jelaskan satu-satu tentang tahapan tesnya. Saya mendaftar ke perusahaan ini di Jogja dalam rangka Career Days UGM sekalian liburan sama teman-teman setelah bergulat dengan sidang Tugas Akhir dan pengurusan Yudisium. Saya ngga ngitung sih berapa banyak manusia yang mendaftar ke perusahaan ini, tapi yang jelas jumlahnya ratusan deh, antrian waktu proses pendaftaran aja mengular meliuk-liuk sampe ngga jelas arahnya. Dan saya juga sempet ngitung berapa jumlah manusia yang lolos di tiap tahapan seleksinya, jadi saya bisa kasih bocoran tentang persentase tidak lolos.

Tes tahap I adalah seleksi administrasi. Memang persyaratan yang diajukan untuk mendaftar sedikit berbeda jika dibandingkan dengan perusahaan lain, selain CV dan Lamaran, harus menyertakan surat keterangan sehat dan tidak buta warna. Insyaallah kalo persyaratan lengkap, pasti bakalan dipanggil untuk tes tahap II.

Tes tahap II adalah semacam tes potensi akademik gitu, ya yang biasa kita jumpai kalo tes IQ. Ada tes padan makna, tes deret huruf, tes analogi verbal, tes identifikasi dan lain-lain. Menurut catatan saya, yang tidak lolos waktu tes tahap ini sebesar 22%, kalau kalian sering latihan (banyak tuh buku-buku latihannya) insyaallah lulus, yang penting waktu ngerjainnya santai tapi jangan nyantai, karena artinya beda lho..hehehe

Tes tahap III adalah tes TOEFL dan tes akademik. Tes TOEFL ya begitulah, apa yang mau dijelaskan. Menurut saya sih skor TOEFL yang diminta standar, perkiraan saya siy di atas 450 saja atau bisa jadi 500. Perusahaan ini ngga pernah bilang tentang standar yang mereka mau. Saran saya sebelum tes TOEFL hendaknya ke kamar mandi dulu, sekedar untuk sisiran, buang air kecil atau buang air besar mungkin. Menurut pengalaman saya waktu tes TOEFL, saya mengerjakan dalam keadaan pengen buang air besar dan ngantuk yang amat sangat sampai salah buka lembaran pertanyaan waktu tes listening. Sebenernya sebelum tes dimulai pengen buang air besar, tapi kamar mandinya RAME GILA..jadi malu kan kalo mau buang hajat! Dan karena hal ini saya menghujat habis-habisan untuk masakan Padang yang saya makan untuk sahur (waktu itu pas bulan Ramadhan). Untuk tes akademik, soal-soal sesuai dengan bidang minat yang kalian lamar. Contohnya saya kan lulusan Teknik Industri, yang bidang minatnya itu satu rumpun sama mereka lulusan Ekonomi, bisa dari jurusan Manajemen dan Akutansi. Jadi pertanyaannya kebanyakan nanya tentang ekonomi. Yang paling nyebelin dan saya ingat banget adalah pertanyaan “Apa perbedaan antara Akutansi Manajemen dan Akutansi Manajerial?” waduh,,oke saya lulusan Teknik yang bisa dibilang ngga terlalu teknik, waktu kuliah dulu memang ada mata kuliah Analisa Biaya dan Ekonomi Teknik. Tapi kalau dikasih pertanyaan seperti itu, walhasil saya cuma bisa ngitung kancing karena [untungnya] jawabannya bisa milih. Dan yang lebih bersyukur lagi, untung saya waktu tes memakai kemeja yang berkancing, untung ngga pake daster..hihihihihi! Oiyah yang tidak lolos waktu tes tahap ini sebesar 38%

Tes tahap IV adalah Psikotes dan diskusi kelompok. Diawali dengan diskusi kelompok, jadi saya dikelompokkan dengan 8 orang yang nantinya diberi permasalahan yang bertujuan untuk mengetahui bagaimana cara kita berpendapat. Yang penting disini adalah jangan terlihat ngotot dan mau menang sendiri, sampaikan pendapat dengan percaya diri dan santai. Diskusi yang berlangsung 20-30 menit itu akan disimak oleh dua orang dari tim penilai. Jadi kita Cuma berdiskusi layaknya orang rapat. Saya sempet minder lho pas keluar dari ruangan diskusi, soalnya orang-orang tadi bahasanya beneran kayak orang lagi rapat. Pake kata-kata ’saudara’, ’anda’, sedangkan saya kadang-kadang masih pake kata ’mas’ dan ’mbak’.. hihihiihi

Psikotes yang saya ingat ya Cuma menggambar, untung saya suka dan bisa menggambar. Sekedar suka lho, suka menggambar belum tentu pintar menggambar. Yang tidak lolos waktu tes tahap ini sebesar 37%. Ternyata juga ada tes yang saya nantikan. It was the first time saya merasakan yang namanya Tes Pauli. Dan wow..sensasinya luar biasa ya, saya terharu seperti dinobatkan jadi Putri Indonesia karena kertasnya penuh dengan angka (yang mengingatkan saya dengan mata kuliah Kalkulus dan Matematika Rekayasa), saya minder (lagi) karena begitu ada aba-aba boleh memulai untuk mengerjakan, manusia disebelah saya (yang kebetulan namanya sama dengan saya) mengerjakan tes itu kayak orang kesurupan, apalagi waktu dia membalikkan halaman, padahal waktu itu saya baru dapet setengah halaman, saya beberapa kali kehilangan konsentrasi karena mikirin manusia di sebelah saya itu benerang ngitung atau ngawur siy…hahahahha

Tes tahap V adalah tes kesehatan. Tes kesehatannya detail banget deh. Saya sudah membayangkan hal-hal yang mengerikan pada saat teman-teman dari kamar sebelah, anak-anak elektro ITS yang dapet giliran tes kesehatan hari pertama menceritakan pengalaman mereka. Waktu periksa fisik dokter mereka cerita akan ada pencolokan (maaf) dubur. Wew? Saya cuma bisa meringis siy ngebayanginnya tapi ini cerita jadi agak rancu, entah ini cerita nakut-nakutin atau prihatin, soalnya mereka bercerita sambil cengengesan. Saya jadi ngga bisa membedakan itu cerita menyakitkan atau menyenangkan? Hahahaha

Yang tidak lolos waktu tes tahap ini sebesar 68%  dan saya termasuk di dalamnya. Perjalanan saya cuma sampai di tahap ini saja setelah tiga hari yang lalu i couldn’t find my name on the list. Bagian yang bikin saya sedih adalah pertama, mengetahui bahwa saya tidak cukup sehat untuk lolos tes kesehatan, atau dengan kata lain kesehatan saya tidak sesuai dengan kualifikasi yang ditetapkan perusahaan ini. Memang ngga ada keterangan yang jelas mengenai standar sehat yang dimaui oleh perusahaan ini, but it wasn’t a big deal for me. Ini seperti alarm yang berbunyi dalam kehidupan saya, berarti ada kemungkinan, something wrong with my body – my health.

Dan yang kedua adalah berapa banyak duit Mama Papa yang selalu setia memberikan uang saku, yang saya gunakan untuk bolak-balik-bolak (saking seringnya bolak balik) Surabaya-Jogja dan tetek bengeknya itu. Mama Papa yang selalu mendoakan dan mengingatkan. I don’t know what they’re thinking. Saya yakin mereka ngga kecewa karena hal ini, cuma agak mempertanyakan karena selama ini Mama Papa menilai saya sudah menjalani hidup sehat, meskipun olahraga cuma seminggu sekali dan ikut volley cuma pas acara TI Days saja..hihihi. Tapi saya janji satu hal, saya janji sama diri saya sendiri, dan kalian yang membaca blog ini akan menjadi saksi bisu dari janji saya. Semua bentuk dukungan baik moril dan spiritual dari Mama Papa akan saya bayar lunas dengan cara membahagiakan mereka dengan uang hasil kerja keras saya sendiri. Wow..! Menyenangkan bukan?

Tes tahap terakhir adalah wawancara. Kata orang-orang sih, kalo sudah sampe tahap wawancara insyaallah lancar deh. Selamat buat yang sudah sampai di tahap ini!

Setelah kalian baca tulisan saya di atas, saya memang sengaja tidak menggunakan kata GAGAL. Karena bagi saya, itu bukan kegagalan, dan itu juga bukan masalah keberuntungan. Seperti yang selalu saya tekankan pada teman-teman saya, dan akan selalu saya katakan..Keberuntungan itu tidak ada! Oops..sorry, saya ralat! Oke,,Keberuntungan itu ada. Tapi kita butuh dua hal untuk bisa mendapatkan apa yang banyak orang sebut dengan keberuntungan itu. Kita butuh Usaha dan Kesempatan!

Usaha + Kesempatan = Keberuntungan

Setuju? :)

Cerita 1. Gangsal Welas

Waktu saya jalan-jalan sendirian di sepanjang jalan Malioboro, sendirian karena temen-temen yang tadinya ada, udah pada balik duluan. Saya memutuskan untuk hunting aksesoris yang vintage dan murah. Akhirnya ngeliat anting-anting, berhentilah saya di depan ibu penjualnya. Gosipnya niy, kalo di Malioboro itu nawarnya kudu pake bahasa Jawa biar ngga dikasih mahal. Saya bisa siy bahasa Jawa, tapi bahasa Jawanya orang Surabaya itu lho alias bahasa Jawa Timuran alias bahasa Jawa ngoko, kalo bahasa Jawa krama saya ngga bisa. Bermodalkan bahasa Jawa Timuran, saya coba menawar harga anting-anting itu.

Oke Ndra, saatnya tes TOJOL (Test of Javanese as Our Language). :D

Saya : Niki pinten bu? [ini berapaan bu?]

Ibu Penjual : Gangsal welas..

Saya : !@#$%^&*!#$%^

Ibu Penjual :  Saged ditawar koq mbak [bisa ditawar koq mbak]

Saya sibuk mikirin ‘gangsal welas’ itu berapaa..??? delapan belas atau lima belas ya? Haduh,,masa nanya ke ibu penjualnya siy..gengsi dong,,tadi kan awalnya udah pake bahasa Jawa krama. Berhubung saya yakin kalo ‘gangsal welas’ adalah ‘sekian belas ribu rupiah’ which is lebih mahal dari sepuluh ribu, saya nawar jadi sepuluh ribu aja deh. Tapi jadi mikir lagi, sepuluh ribu itu bahasa Jawa krama nya berapa ya? Masa ‘sepuluh ewu’. Emang boleh ya kalo pihak satu ngomong pake bahasa Jawa krama trus pihak kedua ngomong pake bahasa Jawa ngoko. Ah bodo amat! Yang penting pake bahasa Jawa deh.

Pas udah sampe dirumah, langsung saya nanya ke Mama, dan ternyata gangsal welas adalah lima belas ribu. Akan selalu saya ingat, gangsal adalah lima. Yes!

Kirain ‘gangsal’ itu nama judul film horor, itu lho ‘Gangsal Limabelas’

[itu Bangsal yahh..hahahahaha]

Cerita 2. Mbenjing

Baru-baru ini saya mengurus perpanjangan SIM di Polres Sidoarjo. Ya biasalah yang namanya ngurus begituan pastilah ribet nan riweh. Habis dari sini ke sini, trus ke sana, trus ke situ, dan seterusnya. Sampailah saya di Loket Entry Data. Berhubung saya datengnya udah agak siangan, jadi semua orang yang mau mengurus SIM hari itu dibatasi sampe jam 11 aja, saya udah mepet jam 11 nih, tapi coba aja deh, nekat, siapa tau masih boleh. Oke Ndra, basa basi dulu lah..

Saya : Pak, kalo perpanjangan SIM itu ngga usah pake tes kan?

Bapak Polisi Berkumis Lebat : Inggih mbak.. [iya mbak]

Saya : Saya mau perpanjangan SIM pak, udah tes kesehatan koq..ini berkasnya.

Bapak Polisi Berkumis Lebat : Mboten saged sak niki mbak, Mbenjing mawon nggih.. [ngga bisa sekarang mbak, …………]

Saya : !@#$%^*()!#$%^*

Saya bengong, Bapak Polisi Berkumis Lebat pun ikut bengong ngeliatin saya ngga beranjak dari loket itu. Saya ngerti inti dari kalimat terakhir Bapak itu adalah, saya tidak bisa mengurus SIM sekarang karena sudah siang, Tapi apakah yang dimaksud dengan kata ‘mbenjing’.

Oke Ndra, inisiatif bertanya lah dulu, daripada sesat di hutan.

Saya : Pak, ngga bisa sekarang kenapa?

Bapak Polisi Berkumis Lebat : Udah siang mbak..

Saya : Trus kapan?

Bapak Polisi Berkumis Lebat : Mbenjing mbak! Besok! Besok!

Oalaahh…Mbenjing itu artinya besok. Yang saya tau ‘mbenjing’ itu ibukota China

[itu Beijing yahh..hahahahaha]

Cerita 3. Sedoso

Pulang dari Polres Sidoarjo itu, saya memutuskan untuk membeli kerupuk upil yang ada di pinggir jalan. Berhubung ngga tau mana penjual yang bonafit, saya pilih penjual yang rame aja. Banyak ibu-ibu lagi ngupil disitu alias makan kerupuk upil. Yee..ibu-ibu ini ngga puasa. Seperti biasa, kalo ngadepin penjual saya selalu pake bahasa Jawa krama andalan yaitu “Niki Pinten Pak?”

Oke Ndra, saatnya tes TOJOL (Test of Javanese as Our Language) lagi.

Saya : niki pinten pak? [ini berapa pak]

Bapak Penjual : Sekawan ewu mbak..

Yesss..!! saya tau artinya sekawan. Sekawan artinya empat, karena dulu ada grup lawak yang namanya empat sekawan.

*Bangga bisa tau artinya sekawan

Saya : Mboten saged kurang tho pak? [ngga bisa kurang pak?]

Bapak Penjual : Nggih,,pinten mbak? [bisa..berapa mbak?]

Saya : rong èwu nggih.. [dua ribu ya]

Bapak Penjual : Nambah malih mbak..Sedoso sekawan mawon nek purun.. [nambah lagi mbak, ………..aja kalo mau]

Haahh? Angka baru nih ya ‘Sedoso Sekawan’. Mati dah. Oke, mari dianalisis. Sekawan artinya empat, kalo sedoso berapa? Apakah ‘sedoso sekawan’ artinya ‘empat ratus’. Jadi si Bapak Penjual minta aku tambahin empat ratus rupiah gitu? Ya sudah lah akhirnya saya pasrah saja, berapapun harganya kerupuk upil kesukaan saya itu, saya tetep mau beli. Saya ngeluarin duit sepuluh ribu. Sama si Bapak Penjual di kasih empat bungkus kerupuk upil.

Bapak Penjual : Duite pas Sedoso nggih..Matursuwun..

Oalaahh…Sedoso itu artinya sepuluh. Yang saya tau ‘sedoso’ itu nama hari setelah hari senin

[itu Seloso yahh..hahahahaha]

The girl who seemed unbreakable…

Broke..

The girl who seemed so strong…

Crumbled..

The girl who always laughed it…

Cried..

The girl who would never stop trying…

Finally quit..

Maybe she is tired..

Saya tidak begitu ingat masa kecil saya. Sebagian masa kecil saya itu selalu diceritakan ulang oleh ibu saya, dengan rasa bangga dan bahagia. Ya ada siy beberapa moment yang bisa saya ingat, tapi itu termasuk sedikit sekali. Kisah di bawah ini adalah true story of my life.

Waktu saya masih TK dulu, saya dan kakak saya suka banget main rumah-rumahan. Oiya..dulu saya punya teman main yang hampir selalu bersama-sama, yaitu kakak perempuan saya karena selisih umur kita hanya 1 tahun 5 bulan. Banyak orang bilang kita seperti anak kembar, karena meskipun lebih muda, bentuk badan saya sudah sama besar seusia kakak saya. Tanda-tanda berperawakan model sudah nampak dari kecil sepertinya, hahaha. Yaa,,,perawakan Manohara Pinot gitu deh =) Seringnya kalo maen rumah-rumahan itu, saya dan kakak saya bikin rumah dari beberapa macam kain. Sebut saja kain sprei, sarung bantal, kadang-kadang ngembat gorden jendela juga. Pokoknya, totalitas dalam bermain itu sangat penting bagi kita. Kita buat atap rumah dari gorden, dinding rumah dari kain sprei, trus bagian yang masih kebuka dikit, ditutupin ama sarung bantal. Lalu, bagian yang juga penting dari rumah adalah pintu. Pintu rumah-rumahan kita dulu keren banget. Cara bukanya ngga didorong atau ditarik, tapi dibuka ke atas, hahaha namanya juga pake kain. Dan kain yang dipilih untuk dijadikan pintu itu adalah…Handuk.

Cerita ini memang akan membahas Handuk. Iya Handuk. Yang dipake buat mengeringkan badan setelah selesai mandi itu lho. Entah kenapa setelah main rumah-rumahan itu, saya dan kakak mengalami amnesia sesaat untuk membereskan kain-kain yang berserakan itu, termasuk handuk saya. Pergilah saya dan kakak saya untuk bermain di luar rumah bersama anak-anak tetangga. Siang itu, waktu ibu saya pulang dari kantornya, beliau melihat keadaan kamar saya yang mirip rambut-keriting-yang-belum-disisir, berantakan. Sambil merapikannya, ibu saya memanggil saya dan kakak saya. Sambil mengambil handuk yang tergeletak-tak-berdaya di lantai kamar. Ibu saya setengah berteriak dan berkata seperti ini.

Ibu : Handuk siapa ini?

*disertai suara petir menyambar-nyambar dan langit yang tadinya cerah mendadak gelap.

Saya : Punya’anku maahhh…

*menjawab dengan logat khas anak kecil. Polos dan manja. Menjawab dengan bibir monyong, alis turun karena takut, dan pantat agak condong ke belakang karena memang waktu kecil pantat saya agak lebar. Dari kecil saya sudah terkenal sebagai orang yang sabar. Mungkin karena itu pantat saya jadi lebar, karena ada teman saya yang bilang bahwa ’orang sabar pantatnya lebar’.

Ibu : Kenapa handuk koq ada di lantai ? Kalo udah ngga dipake dibuang aja sana!!!

Kita sebagai orang dewasa pasti akan sangat mengerti bahwa apa yang diucapkan ibu saya tersebut sebenarnya merupakan majas perumpamaan. Tapi beda lagi kalo kalimat yang diucapkan dengan nada tinggi tersebut di denger oleh telinga anak TK, dan anak TK itu adalah saya.

Saya : …

*hanya diam dan segera mengambil handuk yang ada di lantai itu dan membawanya keluar kamar

 

Cerita belum selesei sampai di sini. Tibalah saat yang dinantikan oleh si Handuk untuk digunakan bersama sang empunya. Mandi sore.

Ibu : Adek, mana handukmu? Tadi siang kamu taruh mana?

*bertanya dengan nada heran dan agak marah karena handuk yang biasanya ada di tempat jemuran handuk, saat ini tidak ada di sana. Ditambah lagi itu adalah handuk yang baru dibeli dan harganya agak *hmpfhh.. mahal.

Saya : Lhooo..kata mamaaa tadi dibuaaang ! Ya tak buang ke tempat sampah di depan rumaaahh..

*lagi-lagi dengan nada polos. Perhatikan kata lho, mama, dibuang dan rumah pada kalimat tersebut. Tolong dibaca dengan benar, karena kalo tidak demikian akan mengurangi nilai dari cerita, hahaha.

Sedetik kemudian terdengar suara.

Bak Bok Bak Bok Bak Bok Ketoplak Ketoplak

Suara apakah itu?

Itu bukan suara pantat saya yang ditabokin oleh ibu saya. Tapi itu suara langkah kaki ibu saya yang berlari secepat kilat menuju tempat sampah depan rumah dengan tujuan hidup hanya satu : mengambil handuk-yang baru-dibeli-yang-harganya-lumayan-mahal

Ibu : …

*memandangi saya dengan pandangan urgghh-untung-masih-anak-kecil-kalo-ngga-udah-gue-makan-loe saking gemesnya ngeliat tingkah saya.

 

Moral of the story is..

Bagi siapapun, khususnya para ibu yang nantinya akan memiliki waktu yang banyak untuk berinteraksi dengan anaknya. DILARANG MENGGUNAKAN SEGALA BENTUK PERUMPAMAAN pada anak kecil. Karena seperti yang pernah saya alami, perumpamaan seperti itu akan ditafsirkan dengan cara yang *hmpfh… sangat kreatif oleh anak kecil.

For your information, nasib si Handuk yang tergeletak di tempat sampah itu akhirnya bisa diselamatkan dengan sukses oleh Sailor-Mom alias ibu saya sendiri. Bersyukur karena si Handuk belum keangkut sama truk pengangkut sampah, karena kalo sampe itu terjadi, bukan ngga mungkin ibu saya akan berubah menjadi pemulung spesialis handuk. Nyokap gue gethoo…hahahahaha I Love You Mom !

 

Puisi ini ditulis oleh mama saya sekitar tahun 2003, pada waktu itu mama menulis surat ini, dan tidak lama setelah itu..saya menyalinnya dalam buku harian saya. Meskipun puisi yang istimewa ini bukan dibuat untuk saya, yang saya ingat saat itu adalah...saya tau betul bahwa saya sangat menyayangi ibu saya, karena saya ikut marah, ikut sedih, dan ikut kecewa jika ibu saya marah, sedih dan kecewa. Karena perasaan sayang adalah perasaan dimana jika orang yang kita sayangi itu disakiti, kita juga bisa merasakan sakitnya..

 

Puisi ini sengaja saya post buat dibaca oleh siapapun,

yang merasa pernah mengecewakan ibu nya..

mereka yang masih belum yakin kalo ibu adalah tempat dimana kita akan selalu ingin pulang..

mereka yang belum mengerti bahwa cinta yang abadi hanyalah cinta seorang ibu..

 

 

Buah hatiku…

Kau bak pelita, penerang jiwa dikala kegelapan,

Kau penyejuk jiwa dikala ada kegersangan di batin ini,

Kau sumber berbagai kebahagiaan, harapan, dan inspirasi…

Harapan yang akan membuatku mempunyai semangat hidup

dan berjuang untuk mempertahankan hidup

Jika harapan itu terbentur…itu akan membuat hatiku hancur,

semangat juang dan sendi-sendi hidupku melemah

Kejadian ini telah menghantam semuanya,

separuh dari kekuatan hidupku seakan telah mereduksi…abrasi…

Namun sebagai orang yang beriman…kita tidak boleh putus asa,

akan selalu ada harapan di sana…

Selagi matahari terbit di ufuk timur

Kegagalanmu saat ini merupakan keberhasilan yang tertunda…

Maka dari itu…yakinilah dan berjuanglah untuk mendapatkan modal hidup di masa mendatang,

kelak bersama istrimu yang baik dan anak-anakmu yang lucu,

dikala mama dan papa telah tiada…

Mama ingin kau lebih bersemangat lagi untuk menjemput masa depanmu yang masih panjang

Semoga kau berbahagia menikmati masa mudamu dan masa-masa mendatang,

Tuhan selalu menyertai langkahmu…

Untuk itu rajinlah memohon kepadaNya..

 

*mom..i’ll do whatever it takes to make you happy…

you can always count on me for sure..

Saya pernah liat film Korea yang judulnya lupa, hehe tapi bintang utama film itu punya phobia yang menurut saya aneh banget. He has a peakphobia alias takut sama benda tajam. Jadi semua barang di rumahnya serba tumpul. Mulai dari sofa, meja, bahkan sprei kasur pun motifnya polkadot. Dia paling ngga bisa ngeliat sesuatu yang ada sudutnya..

Saya pikir, semua orang pasti punya ketakutan terhadap sesuatu. Ngga sekedar takut yang gitu-gitu aja, tapi bener2 takut sampe orang itu bisa pingsan menghadapi yang dia takutkan itu. Setelah googling, ternyata banyak banget lho macemnya phobia itu. Ada yang takut air, badut, sampe takut sama tanggung jawab pun ada istilahnya..

Dulunya saya pikir, saya ngga phobia apapun. Saya ngga takut ama air, ngga takut ama badut, kalo takut ama tanggung jawab..liat-liat dulu lah tipe tanggung jawab kayak apa yang harus diemban. Tapi sekitar setahun yang lalu, saya baru sadar ternyata..saya juga phobia terhadap sesuatu..

Yes, I’m a Dentophobia!

Dentophobia adalah sebutan untuk mereka yang takut sama Dokter Gigi. Iya!! Dokter Gigi! Sebenernya siy bukan dokternya yang ditakutin, tapi proses yang dilakukan si Dokter Gigi itu terhadap gigi saya..! Jangan salah..gigi juga manusia, hahaha punya saraf. Dan kalo udah nyentuh saraf, rasanya amit-amit sakit banget!

Saya punya Dokter Gigi Langganan di lumayan deket rumah. Namanya Ibu Betty. Orangnya ramah banget, tempat prakteknya alatnya canggih, bersih & dijamin kualitasnya. Emang siy tarifnya agak di atas rata-rata, tapi bagi saya, ini ada hubungannya dengan gigi-yang-penuh-dengan-saraf-dan-berhubungan-dengan-saraf-di-otak, jadi jangan sembarangan memilih dokter gigi. Suatu ketika, gigi saya bermasalah dan mau ngga mau harus segera ke tempat Ibu Betty. Waktu itu orang rumah ngga ada yang bisa nganterin, alhasil saya pergi sendirian setelah magrib. Sampe di sana, saya antri giliran saya sambil baca majalah untuk menenangkan diri. Kebetulan, giliran sebelum saya ada anak kecil sekitar umur 6 tahun yang keliatannya ada di sana untuk mencabut gigi susunya. Pas si anak 6 tahun itu masuk, dia teriak-teriak..”SAKITT MAA..!!” Teriaknya kenceng banget, pake nangis bombay pula! Saya yang ada disitu langsung mendadak berkeringat dingin, tiba-tiba pengen pup (entah itu pengen pup beneran atau perasaan merinding yang biasanya menyertai keinginan pengen pup =p). 

Saya takut banget! Tiba-tiba kepikiran untuk kabur dari tempat praktek Ibu Betty. Iyaa…!! Saya kabur! Saya memutuskan untuk kabur! Sebelum nama saya dipanggil, dan begitu masuk ruangan saya juga akan berteriak ketakutan seperti anak tadi! Sejarah baru telah tercipta! Seorang wanita berusia 21 tahun untuk kali pertama dalam hidupnya, kabur dari tempat praktek dokter gigi gara-gara denger teriakan anak umur 6 tahun yang mau cabut gigi susu! Wanita itu adalah saya! Hahahaha.. *bangga + agak ngenes..

Baru-baru ini pun saya harus menjalani perawatan gigi karena suatu yang kurang penting untuk dijelaskan disini di tempat Ibu Betty lagi. Kali ini bersama mama. Begitu masuk ruangan Ibu Betty, aroma khas Dokter Gigi langsung menyeruak. Kenapa siy Dokter Gigi itu selalu gitu baunya? Apalagi denger suara bor, bunyi alat-alat nya yang saling bersentuhan, lampu sorot khas dokter gigi, ngeri banget ngebayanginnya! Pokoknya kalo udah di atas kursi pesakitan itu, saya pasti memejamkan mata, berharap sedang ngga ada di ruangan itu, berharap lagi naik kuda sama Abang Fedi Nuril, berharap lagi spa di hotel bintang lima!

Sekarang jadi semakin yakin, bahwa saya mengidap Dentophobia.

Yes, I’m a Dentophobia!

Saya baru saja membeli sebuah buku di Gramedia beberapa hari yang lalu. Judul bukunya Don’t Sweat the Small Stuff yang artinya Jangan Membuat Masalah Kecil Menjadi Masalah Besar! Di buku itu ada 100 cara (mudah) yang diharapkan penulis bisa membantu si pembaca mencegah masalah kecil mengganggu hidup kita semua. Belum sempet dibaca semua siy, tapi buku ini HIGHLY RECOMMENDED lho..serius! dan saya berinisiatif untuk membagi beberapa hal yang diajarkan di buku itu..sekalian saya coba temukan maknanya dan apakah hal itu sudah pernah saya lakukan dalam kehidupan saya..

LUANGKAN WAKTU UNTUK BERDIAM DIRI SETIAP HARI

Di buku itu, penulis bilang bahwa ada sesuatu yang menyegarkan dan damai ketika berada sendirian dan memiliki waktu untuk merefleksikan diri, bekerja, atau sekedar menikmati kesunyian itu.

Seriously..saya selalu menyisihkan beberapa menit sebelum saya tidur untuk berdiam diri. Saya belajar membiasakan diri saya untuk selalu melakukan itu, untungnya saya bukan termasuk golongan orang yang suka ketiduran. Maksudnya adalah..kalo saya ngantuk dan pengen tidur..ya saya akan bersiap-siap untuk itu, bersihkan muka, sikat gigi, pake krim cewek =P trus rapikan kasur dikit, matikan lampu trus menempel erat di kasur. Dan kalo udah nempel bantal, bukan berarti bisa langsung ‘hilang’..di sini waktu yang saya luangkan untuk berdiam diri. Biasanya siy..saya bersyukur atas apa yang sudah terjadi pada diri saya di hari itu. Kalo ada perasaan ngga enak, saya coba analisis,,penyebab nya apa, trus saya coba bicara dari hati ke hati dengan diri saya sendiri. Lebih tepatnya menasehati diri sendiri. Kadang-kadang juga, saya suka ngebayangin sesuatu yang saya harap akan terjadi di hari esok. Wah..ini sangat bagus untuk kesehatan mental lho ternyata. Pernah saya baca, jika kita kerap menggambarkan kebahagiaan, keberhasilan dan segala sesuatu yang menyenangkan, dan penggambaran dalam imajinasi kita itu sangat jelas..maka alam raya ini akan ikut bergerak sesuai dengan apa yang kita bayangkan. Tapi pastinya ya ngga sesimpel itu lah. Waktu yang pas untuk berdiam diri bisa jadi waktu orang shalat tahajud. Suasananya sepi..ngerasa banget bisa ngomong apa yang bener2 kita inginkan sama Tuhan. Ngga perlu waktu lama untuk berdiam diri, yang penting kita merasa cukup tenang..

JADILAH ORANG YANG LEBIH SABAR

Di buku itu, penulis bilang bahwa kualitas kesabaran kita diuji sepanjang jalan upaya kita meraih tujuan menjadi orang yang tenang dan penuh kasih sayang. Semakin sabar, kita semakin dapat menerima hidup ini apa adanya, bukan semakin memaksakan hidup ini persis seperti yang kita kehendaki. Kesabaran menambahkan suatu dimensi ketentraman dan rasa menerima pada hidup kita. Dimensi yang sangat penting bagi ketenangan batin.

Wow..pastilah dalam hidup kita sering banget denger kata-kata ini. ”Sabar ya..” haha.. Teori yang pernah saya denger dan sering saya ucapkan ke temen2 saya dulu siy ”Sabar itu ngga ada batasnya,,” tapi prakteknya susyeh banget! Sampai saat ini saya masih mencari-cari, sabar yang ngga ada batasnya itu sabar yang kayak apa siy..(curious).  Apakah sabar itu..adalah berdiam diri pada saat orang lain bertindak yang tidak sesuai dengan harapan kita? Apakah sabar itu..adalah ikhlas dateng jauh2 dari rumah ke kampus, lalu ternyata tidak ada kuliah karena dosennya berhalangan? Jadi sabar itu seperti apa? Kadang merasa sudah cukup sabar..tapi kadang juga masih merasa kurang sabar!! Dunia..duniaa..hahahaha

baru-baru ini saya jadi semakin sering bongkar beberapa bagian di kamar, entah itu lemari, kotak2 ajaib atau di bawah kasur..dan menemukan sesuatu yang bisa mengaduk-aduk perasaan saya. perasaan itu bisa seneng trus ketawa, bisa sedih trus nangis..bisa merinding dan akhirnya membawa saya pada suatu tempat yang namanya ‘kamar mandi’..hahaha tapi bukan itu pointnya.

saya ini suka banget baca, bisa buku, tulisan orang, quotes..suka denger musik juga, apalagi yang liriknya aduhai semlohai menyayat hati, perih2 gimana gitu! selain baca ama denger musik itu, ngga jarang saya suka catetin di buku putih saya, buku putih itu namanya FAITH. buku ini isinya rangkuman dari semua yang pernah saya baca yang isinya selalu bisa membangkitkan saya. that’s why it’s calles FAITH!

seperti apa yang dibilang sama michael scofield..

” i choose to have faith, because without that i’m nothing

it’s the only thing that’s keeping me going “

kembali pada permasalah bongkar2 tadi. suatu hari pada saat pembongkaran terjadi, saya menemukan secarik kertas dengan tulisan tangan saya. disitu tertulis tanggal 6 maret 2007. it was my 20th birthday! kertas itu ditulis pake pensil..kurang lebih isinya seperti ini..

Sadness has me at the end of the line..

Helpless watched you break this heart of mine..

And loneliness only wants you back here with me..

Common sense knows that you’re not good enough for me..

And all you had to do was apologize, and mean it..

But you didn’t say you’re sorry..

I don’t understand..

You don’t care that you hurt me..

begitulah..i was smirk then laughing from the bottom of my heart. pernah saya baca, jika suatu saat kita mengalami hal yang menyakitkan sekalipun, mungkin suatu hari nanti kita akan merasa bersyukur telah dianugerahi pengalaman menyakitkan itu..beneran! i’ve been there and done that!

di hari ulang tahun saya yang ke-20, saya menulis seperti itu. seperti ditujukan untuk seseorang. tapi sekarang ngga peduli, i don’t understand, i just don’t care..

.: Historia Acerca de Dejar y de Los Abandonados :.

La Primera Parte : Rojo Hilos Que Conectan Inicio
[Bagian Pertama : Benang Merah Itu Mulai Terhubung]

Januari 2010

Malam ini, tepat di tempat saya berdiri sekarang, mencoba memperjelas segala asa. Saya memilih tahun ini sebagai tahun yang tepat untuk merealisasikan rencana terpendam itu. Banyak hal yang telah dilewati dan mencoba untuk memaknai semua prosesnya. Belajar memahami bahwa semua gerakan di planet ini selalu mengajarkan saya sesuatu, yang oleh tiap individu dipandang dengan cara yang berbeda.

Seminggu lagi sahabat karib saya mau nikah. Jadi pernikahan Enditha ini adalah pernikahan kedua dalam hidupnya setelah suami sebelumnya pergi meninggalkannya serta satu malaikat kecil untuk selamanya. Selain Enditha, ada Rahmi, Quin, Hexa dan Abi. Kami seumuran dan sekarang sedang menikmati masa kelulusan, kecuali Enditha tentunya, karena dia memilih untuk menikah muda dan tidak melanjutkan kuliah.

Tiga hari sebelum hari pernikahan itu tiba, saya mendapatkan panggilan dari salah satu badan penyedia beasiswa di Jakarta. Tiba di tempat tersebut, saya menyiapkan mental dan berusaha tampil apa adanya karena saya tahu pasti mereka akan memilih saya, karena saya adalah saya. Begitu masuk di sebuah ruangan berukuran 5×5 meter itu, seorang laki-laki yang rambutnya setengah beruban mempersilahkan saya duduk. Yang saya tahu nama laki-laki itu adalah Ir. Baddarudin karena nama itulah yang saya lihat di pintu tempat saya masuk tadi. Setelah pertanyaan perkenalan, mulailah kami masuk ke pertanyaan sesungguhnya.

So..you are a fresh graduate from Surabaya, and you come along here by yourself to get trough this interview with me. Its sounds like I will have a nice day with you.

Thank you sir, hopefully it happens!

Your name is Mahadewi Indira Ishtar, What should I call you? Because in your paper here, you write you nick name as Indra, Why?

That’s my colleagues called me and I like it. It sounds easier to express Indra than Indira, but if you want to call me Indira, I have no problem with that.

No, I like to call you..Mmm…Ishtar? What about that?

Saya cuma mengangguk dan tersenyum. Semakin lama saya tenggelam dalam percakapan ini, saya semakin merasa bahwa sepertinya saya pernah bertemu dengan lelaki bernama Baddarudin ini, tapi dimana? Kami sama sekali tidak membahas masalah beasiswa itu, yang lelaki itu tanyakan hanyalah seputar diri saya sendiri dan sesekali dia bercerita tentang suatu peristiwa dan ingin mendengarkan pendapat saya tentangnya. Sama sekali bukan seperti wawancara tipe konvensional.
Lelaki itu juga mengatakan bahwa beasiswa ini akan diberikan pada mereka yang nantinya mau memberikan loyalitasnya pada perusahaan yang dipimpinnya sekarang. Itu artinya, setelah beasiswa ini berakhir, saya harus kembali ke Indonesia dan bekerja di sini, bersama lelaki itu. Tidak seperti harapan saya. Sampai kami berada di akhir sesi wawancara, dan lelaki itu menanyakan sesuatu yang benar-benar di luar perkiraan saya.

A month ago, a friends of mine decided to ended his life because someone he loved suddenly left him with another guy. What do you think about it?

I don’t know why there are people who choose to kill themselves when they don’t know how to handle their problems, while there are people who are still trying to survive even if they don’t having anything in this world, only their faith in God.

Lelaki tersenyum sambil mengernyitkan dahinya, sesaat kemudian dia merapatkan badannya dan menopangkan kepalanya pada tangan kanan di meja.

Then?

I seriously think that every individual whether you are rich or poor, have lot’s of friends or none, whether you belong to a complete or broken families, whether you are happy or lonely, there are no exception.
You are destined to have problems, problems that can make us strong and help us to become brave in facing those challenges that we galore, problems that was given to us by our God not to make us cry or to bring out hardship in life, but to test us on how far is our faith on Him.. until when we will trust Him.

Wow…a very good opinion. I’m speechless right now. Ok…This is going to be my last question. Ishtar…how does a good man decide to leave a good, smart and lovely woman?

Excuse me sir, but I’m not a man. I’m afraid that my point of view will cause a less appropriate.

That’s ok! I just want to know.

Hening sejenak.

There are two reasons owned by that good man. First because the man believed that he didn’t deserve to stand beside the woman and the second is.. Mmm..actually I hate to have to say this but I think that.. a good man is too unmanly to believe that he can change his ability to be the best for the good, smart and lovely women.

Sore ini, saya berada di toko buku tak jauh dari tempat saya ‘mengobrol’ dengan lelaki itu siang tadi. Tepat satu jam lagi, saya akan berada di sana lagi untuk mengetahui kepastian apakah saya berhasil menerima beasiswa itu.

Yes! I did it!

inosculate

Hujan.

Jangan sendirian.

Mungkin bagi kebanyakan orang, hujan merupakan berkah. Bagi petani..hujan berarti ladangnya subur, bagi orang2 di afrika sono..hujan berarti ngga kekeringan lagi, tapi bagi saya..hujan hanyalah deretan air yang mengalir dari langit, yang selalu mengingatkan saya tentang sesuatu.

Misery.

Saya adalah salah satu dari minoritas orang yang benci tidak suka hujan.

Aneh?

Ngga. Saya punya emotional explanation yang menurut saya sah2 aja.

Dan sekarang, Indrawati Yustisiana…sampe kapan mau membenci hujan?

Well, maybe this story can change my impression about rain.

Especially…that rainy night..

Suatu ketika di pertengahan tahun 2011, saya sedang berada di New York yang saat itu sedang musim gugur, suhu udara lumayan dingin dan hari pun menjelang malam. Di dalam apartemen, saya duduk di ruang tengah di dekat perapian mungil dan ditemani TV kabel. Sambil sesekali membaca majalah Vogue dan menyusun jadwal pekerjaan saya sebagai seorang fashion buyer.


*tulilut tulilut…tulilut tulilut

Saya segera beranjak dari sofa maroon kesayangan saya, meletakkan laptop dan mengangkat telepon.

Me : ya..hello! indrawati’s speaking

Dia : hai..ndra, ini aku..

Suara di seberang terasa sangat familiar. Sambil mencoba mengingat siapa pemilik suara berat itu. Saya hanya tersenyum.

Me : lagi dimana kamu?

Me : masih di Vladivostok buat misi perdamaian PBB mu itu?

Me : katanya sampai minggu depan ya?

Dia : hmm…ndra

*seseorang itu sedang salah tingkah

Dia : mm..ndra, gini..

Dia : kamu bisa dateng ke Central Park ngga?

Dia : di deket pohon Oak merah, disitu nanti ada musisi jalanan..

Dia : bisa kesitu ngga sekarang?

Bingung.

Ada apa ini. Ada apa dengan Central Park lebih tepatnya. Dan kenapa dengan musisi jalanan. Seketika itu juga pertanyaan itu muncul..

Apa mungkin dia sekarang sedang ada di sana? Central Park? Bukannya kemarin dia sedang ada di Vladivostok. Itu di Rusia dan itu sekitar 10 ribu kilometer dari apartemen saya. Ini New York City.

Me : …

Dia : aku tau mungkin kamu bingung ndra,

Dia : tapi please dateng kesana ya..

Dia : nanti aku bisa jelaskan semua..

Me : …

Me : mmm…oke, oke..

Me : Central Park deket kok, aku jalan kesana sekarang

Dia : thanx very much ndra..

Dia : see you there..

*nut nut nut nut

Percakapan di telepon berakhir. Masih ngga percaya dengan apa yang terjadi barusan. Dengan suara di seberang telepon. Saya pun bergegas. Masih dengan rasa penasaran yang amat sangat. Di luar mulai hujan. Saya berhenti sejenak.

Hujan.

Jangan sendirian.

Saya berpikir dalam hati. Saya benci tidak suka hujan. Dan untuk apa saya harus melewati hujan ini untuk sesuatu yang saya belum tau pasti seperti apa. Saya berbalik. Mengurungkan niat untuk mengambil mantel, membawa payung dan kemudian turun melalui lift. Saya berpikir sejenak.

*ting

Bunyi lift yang telah sampai di lantai dasar menyadarkan saya dari lamunan. Di luar hujan deras. Saya membuka payung ungu bertuliskan Chocolate milik saya. Dan tanpa saya sadari, saya sedang berada di tengah derasnya hujan. Sendirian.

Berjalan menuju Central Park atas permintaan seseorang. Padahal sebelumnya tadi saya sempat mengurungkan niat. Sampailah saya di sebuah taman bernama Central Park itu. Hujan makin lebat. Saya melihat sekeliling. Sepi.

Hujan.

Dan saya sendirian.

Akhirnya pohon Oak itu pun ketemu, dan tak jauh dari situ..telah berdiri 4 orang dengan instrumen musik masing-masing. Seseorang dengan gitar, bodhram (alat musik pukul), lalu ada biola, dan seorang lagi menggenggam erat tin whistle-nya. Mereka berdiri tak jauh dari pohon Oak, samar2 wajah mereka basah karena hujan.

Di tengah kebingungan itu. Dia datang.

Dia : Hi..ndra..

Dengan setengah basah kuyup, dia mempersilahkan saya duduk di bangku taman persis di bawah pohon Oak itu.

Dia : Indrawati Yustisiana..

Dia : hari ini..

Dia : 24 jam ini, aku menempuh perjalanan hampir 10 ribu kilometer..

Dia : melewati 4 zona waktu, dan 3 medium transportasi..

Dia : so..

Dia : for tonight ndra..meskipun hujan

Dia : i know you don’t like rain very much..

Dia : just…mmm…

Dia : please enjoy the show..

Me : …

Dia memberi aba aba kepada 4 orang di seberang, dan…mengalunlah secara instrumental sebuah lagu. Suara biolanya yang mendominasi, mengalahkan suara hujan yang semakin deras.

Seseorang itu mulai bernyanyi.

Dia : If you're not the one then why does my soul feel glad today..
Dia : If you're not the one then why does my hand fit your this way..

Me : …

Walaupun musik dan suaranya entah kemana. Saya tahu pasti itu lagu ‘if you’re not the one’nya Daniel Bedingfield.

Hujan.

Saya tidak sendirian.

Saya hanya terdiam melihatnya menyanyikan lagu itu. Tersenyum. Jaman udah kayak gini masih ada juga cowok nyanyi di depan cewek dan agak memaksakan suaranya. Mungkin dia ngga sempat untuk berkonsultasi dengan seseorang tentang lagu apa yang sebaiknya dia nyanyikan. Lagu ini kan tingkat kesulitannya tinggi.

Andai yang dia nyanyikan bukan lagu kesukaan saya, pasti saya akan langsung pergi. Bener! Coba bayangkan seandainya dia menyanyikan lagunya Jamrud yang judulnya ‘Putri’, sambil teriak2 ala rocker dan lirik lagunya kurang lebih__ seperti ini :

Putrriii…sayang tubuhmu koq digratisin,

Hanya untuk dengar satu kataa..

Biar dibilangg…SEKSSEEHHH..!!

Wahh asli bener, seseorang itu bakal kena gampar kalo nyanyiin lagu itu. Untungnya dia agak pintar. Dia memilih lagu kesukaan saya. Dia sudah merendahkan harga dirinya dengan menyanyikan lagu ini.

Payung ungu itu, saya lempar begitu saja. Tiba2 saya ingin ikut serta dalam lebatnya hujan di Central Park. Masih duduk di bangku taman menyaksikan seseorang itu bernyanyi.

I never know what the future brings 
But I know you are here with me now
We’ll make it through 
And I hope you are the one I share my life with
And I wish that you could be the one I die with
And I pray in you’re the one I build my home with
I hope I love you all my life

Sampai dia mengakhiri lagunya, yang mungkin bagi sebagian orang menganggap itu adalah pepaduan antara suara kucing minta kawin dan mesin diesel bobrok. But for me it was a symphony.

Symphony of the rain.

Meskipun lagu telah selesai, empat orang di seberang sana masih memainkan alat musiknya. Mengalunkan sebuah lagu sebagai background percakapan kami setelah ini.

Dia berdiri dan mulai berlutut di depan saya.

Dia : mungkin kamu menganggap aku gila ndra malem ini..

Dia : but for me..

Dia : it’s better..dari pada aku harus melewatkan momen ini..

Dia : and let it go away for eternity..

Dia mengeluarkan cincin dari kantongnya. Bukan berlian atau emas, itu cuman terbuat dari kayu rajutan yang dia dapatkan dari suku nomaden di Mongolia.

Dia : will you spend the rest of our human life with me Indrawati Yustisiana?

Me : …

-the end of the story-


Maybe I wont have to hate rain ever again..

Nobody knows..


Say Thanks

..to Pengarang Cerita Hujan ini, terimakasih atas doanya. Semoga bener2 terjadi dan dia adalah seseorang berinisial FN. Maaf ceritanya jadi hak milik saya pribadi, dan ada beberapa bagian yang diubah, terutama lagunya.

..to ‘seseorang’ yang selalu membuat saya merasakan hal itu setiap kali hujan datang. Terima kasih karena sudah membuat hampir segalanya terasa sangat berarti setelah semuanya berakhir.

dan nantinya..

..to ‘seseorang’ di tahun 2011. saya bisa pastikan bahwa kamu adalah pria paling beruntung di jagad raya ini.

hehehe..