Balikpapan, 28 Januari 2011
Malam ini saya lagi ada di kantor, tidak untuk lembur karena ternyata yang namanya pekerjaan itu, dilemburin atau ngga, perasaan sama aja, ada mulu,hehe. Bangunan ruko dua lantai ini sepi, cuma ada saya seorang ditemani penjaga malam yang lagi asyik ngerumpi di depan sama gang-nya. Entah ngomongin apa, ketawanya sampe kedengeran disini meskipun saya juga sedang nyalain winamp, dengerin lagu-lagu lama yang menurut saya ngangenin.
Ngomongin tentang kangen, saya kangen dengan kehidupan saya sebelum ini. Kehidupan dimana saya jadi seorang laki-laki yang baru keluar dari penjara. Laki-laki yang tangannya berotot dan tato dimana-mana. Hahaha.. ya enggak lah! Itu Cuma imajinasi asal! Yang saya maksudkan adalah kehidupan sebelum saya tinggal disini. Mari flashback.
Tanggal 5 Februari nanti, tepat setahun yang lalu adalah merupakan salah satu hari yang menegangkan dalam hidup saya. Mungkin ini berlebihan, tapi bagi saya tidak. Tidak berlebihan bagi seorang anak yang baru saja lulus, yang selama 4 bulan menjalani beragam tes masuk di beberapa perusahaan, yang sudah merasa suntuk dengan 4 bulan tanpa kepastian. Tanggal 5 Februari 2010, saya mendapat telepon jam 5 sore dari HRD tempat saya bekerja sekarang bahwa saya besoknya harus sudah ada di Jakarta jam 9 pagi untuk mengikuti tes tahap akhir. Saya nangis! Dan saya yakin itu tangisan puas, setelah saya minta pada Tuhan untuk membesarkan hati saya yang waktu itu sedang tidak besar! Oke! Saya inget banget bagaimana kondisi saat itu, saya lagi di mobil nungguin Ibu saya yang sedang ikut kampanye temannya yang mencalonkan diri menjadi Walikota, di luar hujan deras dan saya kelaparan! Akhirnya saya memutuskan untuk jalan kaki beli makanan cepat saji yang kebetulan ada di dekat situ. Sekembalinya di mobil, saya melihat ada empat missed call dari nomor berkode 021 dan saya yakin itu adalah nomor HRD perusahaan saya sekarang. Seketika itu juga nafsu makan saya hilang, ayam goreng yang masih panas pun terlihat tidak menarik bagi saya. Saya coba menghubungi nomor tersebut tapi tidak bisa, karena mungkin nomor tersebut didesain untuk tidak dapat dihubungi kembali.
Saya pasrah!
Handphone saya pelototin sambil menyilangkan jari telunjuk dan jari tengah, berharap bisa muncul nomor yang sama. Dan ngga lupa berdoa, doa klasik yang sering saya minta:
”Tuhan, terimakasih atas kesempatan yang Kau beri, tadi aku ngga denger kalo hape-ku bunyi, beneran deh! Satu kali kesempatan ya Tuhan, bisikkan pada orang yang menelpon itu, kalo sekarang aku sudah dalam keadaan bisa menerima telepon!”
*doa culun
Handphone saya bunyi. Mau tau ringtone-nya? *ngga penting
And, yes! Tuhan Maha Mendengar! Dan Tuhan ngga cuek,hehe
Jadilah setelah itu saya resmi menjadi bagian dari sekelompok orang–enampuluhorang. Namanya XXXI. Eh itu bukan nama samaran lho. Hampir mirip dengan apa yang saya inginkan di 2010, dapat pekerjaan, dapat kenalan baru, dan tentu saja, kehidupan baru. Kalo diceritakan bagaimana kisah saya dengan 59orang itu, bisa jadi satu novel kali ya. Im working on it! Sudah dapat dua chapter siy, bukan kehabisan ide, tapi saya suka sensitive sendiri kalo mengingat kisah-kisah dengan mereka. Menyenangkan, walaupun sebagian besar dari mereka berkumpul di ibukota, I got a clear picture of them in my mind. Gimana ngga? Wallpaper komputer ini pun memasang wajah sumringah mereka semua. Kangen!
Jauh di mata, dekat di hati. Meski jauh kau selalu di hati. –The Sister–
(sekali lagi) Tuhan mengabulkan doa saya untuk bisa tinggal di tempat yang benar-benar baru dimana tidak banyak orang yang kenal dengan saya. Dan Tuhan memang Maha Mendengar, sama sekali ngga cuek,hehe saya diberi kehidupan baru di Balikpapan.
Jadilah saya mulai menjalin hubungan jarak jauh dengan banyak orang. I am enjoying this kind of long distance relationship with ten thousand people. Tetapi tidak semudah yang dibayangkan. Ibu saya adalah orang yang paling merasakan hal ini. Mungkin karena saya adalah anak terakhir, dan saya Cuma bisa bilang sama Ibu saya. ”Mom, we have to face this situation”. Ini juga tidak mudah bagi saya, akhirnya pun kita cuma bisa berhubungan by sms, telepon dan sesekali menggunakan web cam, sampe suatu saat Ibu saya bilang, “Mama ngga mau web cam-an lagi, sedih, bisa ngeliat adek gerak-gerak, bisa dengar suaranya. Pengen pegang dan cium tapi ngga bisa. Sudah ya, kita telpon aja.”
Saya nangis!
Walau raga kita terpisah jauh, namun hati kita selalu dekat.
Bila kau rindu pejamkan matamu, dan rasakan aku.
-Zivilia-
Ngga hanya dengan Ibu saya, saya juga merindukan momen kebersamaan dengan sahabat saya di Surabaya dan Jakarta. Tapi bukannya hukum Alam memang seperti itu, akan datang saatnya dimana kita akan benar-benar diharuskan untuk bisa dan sanggup berdiri sendiri, meskipun pada kenyataanya kita tidak pernah benar-benar sendiri. Yes, we will never walk alone.
Saya terimakasih banget sama penemu telepon dan internet, karena tanpa kedua hal tersebut, hubungan jarak jauh akan terasa getir,hahaha ngga juga kali ya?
Meskipun saya terpisah jarak, ruang dan waktu dengan banyak orang terkasih. Terpisah jarak ribuan kilometer, terpisah ruang yang berbeda dan terpisah waktu yang berselisih-disini menggunakan Waktu Indonesia Tengah. Tapi saya selalu merasa dekat. Ini semua memang pilihan. Pilihan saya adalah jauh tapi merasa dekat daripada sebaliknya, dekat tapi merasa jauh. Trust me..kalo kita dekat dengan seseorang tapi merasa jauh, it feels empty..
Apakah kamu juga sedang menjalani hubungan jarak jauh?
Enjoy every moment of it, karena ada sesuatu yang memang harus dijalani dan diperjuangkan dari hubungan jarak jauh itu sendiri, dan nantinya akan ada hasil yang layak untuk didapatkan. Yang saya pelajari adalah bagaimana kita tetap merasa dekat dengan mereka yang kita kasihi, meskipun secara fisik kita tidak bisa bersama, tapi nanti suatu saat jika ada kesempatan kita untuk bersama, i believe..momen itu akan terasa sangat berharga!
Saya tunggu kamu disini.
Semoga kita bisa ketemu di keadaan yang jauh lebih baik
Joie de Vivre!

a wise man said, one intelligence level can be determined by what song he/she choose to quote.
of all the song in the world, zivilia ? seriously ?
you desperately need to start reading smart books and listen to more educated song
what kind of song?
wali..? d’bagindaz..? you must be joking me..
at least i can sing it very well