“Dan Tak Layak Kau Didera..”
Namaku Ishtar. Saat ini aku bekerja di salah satu perusahaan Telekomunikasi di Vietnam sebagai asisten manager promosi, ya kurang lebih seperti itulah. Entah apa yang membawaku ke negara ini, mungkin Indonesia sudah tak ada lagi lapangan pekerjaan. Tidak. Bukan itu, aku senang tinggal disini. Kota yang aku tinggali tidak terlalu besar, namun sudah cukup metropolitan bagiku, dan yang paling menyenangkan disini adalah, sepanjang jalan sangat dekat dengan pantai. Kotanya bersih dan jauh dari hiruk pikuk macet. Hampir tidak ada macet disini. Sudah hampir setahun aku berada disini.
Seperti yang sebelum-sebelumnya, weekend selalu menjadi jadwal chating dengan sahabat-sahabatku di Indonesia. Aku menikmati hubungan jarak jauh dengan mereka, tidak apa-apa meski hanya bisa melaui rentetan kata, tapi aku tetap bisa tertawa. Dunia memang sudah sedemikian modern, sehingga berlama-lama di depan komputer sambil senyum-senyum sendiri pun tidak lagi menjadi hal yang aneh. Sambil ngobrol dengan mereka aku memeriksa email, dan salah satunya datang dari atasanku.
***
Australia sangat keren, mataharinya terik dan yang paling aku suka adalah untuk pertama kalinya aku berada di tempat baru, dan nanti akan bertemu dengan orang-orang baru. Training yang aku datangi diikuti oleh banyak peserta dari belahan dunia. Wajah mereka sangat asing bagiku. Pagi itu kami dikumpulkan untuk acara pembukaan dan perkenalan baik dengan penyelenggara maupun dengan sesama peserta. Rupanya aku datang kepagian. Aku memilih tempat duduk tidak terlalu di depan. Bangku di samping kanan-kiriku pun masih kosong.
“Kebetulan itu tidak ada. Semuanya sudah diatur. Tuhan yang mengatur.”
Tidak lama setelah itu, kamu datang dan menanyakan apakah bangku di samping kananku sudah ada yang menempati. Sambil menyodorkan tangan, kamu memperkenalkan diri.
”Hi..! I am Alif.”
Aku pun memperkenalkan diriku. Semua detail tentang pertemuan pertama kita masih terekam jelas dalam ingatanku. Itu karena kamu membuatnya seperti itu. Ya. Caramu memulai percakapan denganku, jawaban yang kamu berikan, jawaban yang tidak pernah aku jumpai saat berkenalan dengan yang lain. Kamu membuatku tertawa. Kamu lucu.
Selain kamu adalah orang Indonesia, aku rasa tidak ada yang spesial darimu. Kamu seperti lelaki kebanyakan. Berjalan seperti lelaki, bersuara seperti lelaki dan berpenampilan seperti lelaki. Entah bagaimana awalnya kita bisa dekat. Kamu mendekatiku? Aku rasa tidak. Aku berusaha menarik perhatianmu. Tidak juga. Atau keadaan yang membuat kita dekat? Mungkin karena tiap hari kita bertemu membuat kita lebih saling mengenal satu sama lain. Entahlah. Atau ini semua hanya kebetulan semata? Kebetulan saja kita mengikuti training yang sama, dan bisa berkenalan lalu bisa menjadi dekat? Ya mungkin memang kebetulan. Kebetulan aku yang dikirim oleh perusahaanku untuk mengikuti training ini, kebetulan juga bagimu bisa datang, kebetulan tiga bulan ini sangat menyenangkan. Ayolah. Kebetulan itu tidak ada. Semuanya sudah diatur. Tuhan yang mengatur.
***
Aku tau kamu sudah bertunangan. Cincin di jari manismu sudah sangat jelas mengatakan hal itu. Aku tau, ada beberapa orang yang terlarang untuk bisa kita cintai. Orang sepertimu salah satunya. Aku tidak ada niat untuk menggodamu. Tidak. Bukan itu. Sungguh bukan itu maksudku. Aku hanya ingin menyentuh hatimu, tanpa harus melibatkan hatiku. Tapi aku lupa, untuk dapat menyentuh hati seseorang, kita juga harus menggunakan hati.
Pernah aku memperingatkanmu agar tidak terlalu dekat denganku, karena jika kamu tetap melakukannya. Aku bisa pastikan kau akan jatuh cinta kepadaku. Aku mengatakannya agar kamu tidak membawa hubungan pertemanan kita menjadi lebih jauh lagi. Tadinya aku yakin pada diriku sendiri bahwa aku bisa untuk tidak jatuh cinta dengan orang yang tidak boleh aku sayangi. Orang yang jelas sekali sudah bertunangan. Aku yakin sekali bahwa perasaan itu bisa dikendalikan. Ternyata aku salah. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak bisa mengendalikan perasaanku sendiri. That’s why it’s called fall in love, because you just fall.
“Tapi aku lupa, untuk dapat menyentuh hati seseorang, kita juga harus menggunakan hati.”
Saat bertemu denganmu aku sedang dalam keadaan yang bebas untuk mencintai siapapun. Bahkan aku berani bilang, saat itu aku sedang dalam keadaan terbaik untuk jatuh cinta. Aku tidak sedang terikat dengan siapapun, aku tidak sedang mencari pelarian akibat patah hati, atau aku tidak sedang bermasalah dengan seseorang kemudian aku mencari yang lain. Bisa bertemu denganmu adalah takdir, memutuskan untuk dekat denganmu merupakan pilihan diriku sendiri, tapi jatuh cinta denganmu adalah sesuatu yang tidak dapat aku kendalikan.
Bisa jadi, karena saat itu aku sedang dalam keadaan terbaik untuk jatuh cinta, aku menampilkan diriku yang terbaik sebagai pribadi yang siap untuk dicintai. Aku tidak memilihmu, aku tidak dengan sengaja memilihmu. Ada campur tangan Tuhan disitu. Nice to know you… Dan sampailah kita di akhir kebersamaan ini. Kita harus berpisah.
***
Kini kita harus kembali ke kehidupan semula. Aku merasa ada yang hilang, entahlah. Aku masih memikirkanmu. Aku pikir untuk apa aku melakukan semua ini. Ah, mungkin nanti seiring berjalannya waktu, aku akan melupakanmu dan kamu pun akan melupakanku. Kita akan melupakan ‘kita’. Namun kamu masih memperlakukan kita dengan perlakuan spesial. Aku merasa diperhatikan, meskipun jauh, seolah-olah kamu ada disini. Tidak. Tidak hanya kamu yang memperlakukan kita dengan perlakuan spesial, akupun melakukannya. Aku menciptakan bayanganmu di hatiku.
“Maafkan aku terlanjur sayangi, terlanjur ingini semua yang ada.”
Aku ingin kamu tahu, bahwa sebenarnya aku tidak ingin membuat semua ini menjadi semakin dalam. Tiap kali hendak menghubungimu, aku selalu berpikir tentang wanita disampingmu. Aku mencoba untuk mengerti perasaan wanita itu. Tapi maafkanlah aku. Maafkan aku terlanjur sayangi, aku terlanjur ingini semua yang ada. Dan akhirnya kukatakan padamu. Kalaupun keadaan mengharuskan kita untuk tidak dapat bertemu seperti dulu, aku akan baik-baik saja. Aku bisa berdiri sendiri kalau itu harus, meski kamu tidak ada disampingku. Tapi aku menginginkanmu. Aku mau kamu ada disini. Aku minta maaf atas keinginanku itu.
Surat pendek itu ingin sekali aku kirimkan padamu. Tapi aku tidak bisa. Jadi, sampai detik inipun aku masih menyimpannya. Surat itu aku selipkan disampul bagian belakang sebuah buku yang sering aku baca. Kalaupun kamu membacanya, aku rasa tidak akan ada penjelasan apa-apa darimu. Kamu hanya akan bilang bahwa kamu sayang padaku dan akan mengatakan semuanya saat kamu datang kesini suatu hari nanti. Baiklah. Aku akan melanjutkan hidupku. Dan aku akan menunggumu datang untuk menjelaskan beberapa hal tentang kita. Aku meyakini bahwa suatu hari nanti akan datang saatnya kau jujur padaku. Aku menginginkanmu membuat keputusan yang terbaik untuk dirimu. Aku mengharapkan kau memiliki doa yang berujung sama dengan doaku. Doa yang terbaik.
***
Sore itu seperti biasa aku berjalan pulang ke rumah, melewati zebra cross, menunggu lampu menyala merah agar kendaraan itu berhenti dan aku bisa melenggang dengan aman. Di muka gang depan rumahku, tiba-tiba seseorang mendahului langkahku. Surprise. It was you!
I didn’t expect you to come, but I believe you will come.
Senang rasanya bisa bertemu lagi denganmu. Senang rasanya bisa berdua melewati waktu itu. Senang akhirnya kamu benar-benar datang. Dan yang paling membuatku senang adalah mengetahui bahwa tidak ada rasa canggung sedikitpun saat pertama kali bertemu setelah sekian lama kita tidak berjumpa. Dan aku rasa itu karena kamu memang dekat di hatiku.
Sampai pada saat aku menanyakan tentang kejujuran hatimu. Aku senang karena akhirnya kamu mengatakan semua isi hatimu. Aku tau tidak mudah bagimu untuk mengungkapkannya. Tapi terima kasih banyak sudah sanggup melakukannya. Aku senang bahwa aku menyayangi orang yang juga menyayangiku. Hanya saja…kita tidak bisa bersama.
Sebulan lagi kamu akan menikah. Semuanya seolah tidak lagi dapat aku jangkau. Kenyataan yang harus kita hadapi adalah bulan depan kamu akan menikah. Pernikahan itu hanya menghitung hari, semuanya sudah siap. Semua orang sudah mengetahui bahwa kamu akan menikah. Dan pernikahan itu harus dilakukan. Kamu ingin bersamaku, tapi kamu tidak bisa melakukannya. Bersamaku akan menciptakan beban yang sangat berat. Apa yang akan kamu katakan pada wanitamu, pada keluargamu, pada semua orang yang sudah mengetahui rencana hidupmu itu.
”Tidak apa-apa. Aku akan mencoba untuk mengerti bebanmu itu. Ini pasti tidak akan mudah bagiku. Bagi kita.” air mata mengalir dimataku. Dan kalimat terakhir yang aku ucapkan padamu sebelum kita diam dalam keheningan, diam untuk saling mengerti perasaan masing-masing.
”Pulanglah padanya…” kataku pelan.
...Rasakan semua, demikian pinta sang hati. Amarah atau asmara, kasih atau pedih, segalanya indah jika memang tepat pada waktunya. Dan inilah hatiku pada dini hari yang hening. Bening. Apa adanya…
by Dewi Lestari
Menahun, ku tunggu kata-kata Yang merangkum semua Dan kini ku harap ku dimengerti Walau sekali saja pelukku Tiada yang tersembunyi Tak perlu mengingkari Rasa sakitmu Rasa sakitku Tiada lagi alasan Inilah kejujuran Pedih adanya Namun ini jawabnya Lepaskanku segenap jiwamu Tanpa harus ku berdusta Karena kau lah satu yang ku sayang Dan tak layak kau di dera Sadari diriku pun kan sendiri Di dini hari yang sepi Tetapi apalah arti bersama, berdua Namun semu semata Tiada yang terobati Di dalam peluk ini Tapi rasakan semua Sebelum kau ku lepas selamanya Tak juga ku paksakan Setitik pengertian Bahwa ini adanya Cinta yang tak lagi samaKamu yang memutuskan, dengan siapa nanti akan kamu habiskan sisa hidupmu. Pilihlah dia yang menurutmu bisa membuatmu jatuh cinta berkali-kali, dia yang bisa menjadi matahari pagi menyinari harimu, dia yang bisa membuatmu berjalan dengan menegakkan kepala karena dia meyakini bahwa kamu lelaki hebat, dan dia yang bisa membuatmu nyaman seperti anak umur lima tahun dipangkuan ibunya.
Kamu yang memutuskan. Tak ada lagi yang bisa aku lakukan. Aku hanya bisa menunjukkan yang terbaik dariku. Inilah diriku. Satu hal yang aku yakini, kamu adalah lelaki baik. Lelaki yang baik adalah lelaki yang melakukan apa yang sudah dikatakannya. Aku tau kamu sayang padaku, aku tau kamu akan berbuat sesuatu yang akan membuatku yakin kalau kamu memang sayang padaku dan ingin bersamaku, karena itulah aku mengagumimu.
Namun, jika untuk bisa bersamaku membuat bebanmu terasa lebih berat. Mungkin, lebih baik jangan kau lakukan. Mungkin, aku bukan pilihan. Ajaklah hatimu bicara, suara hati akan keluar dengan nada yang sangat menenangkan dan akan membuatmu yakin. Dengarkan saja kata hatimu. Hati tidak pernah salah. Aku ingin kamu mengambil keputusan yang terbaik untuk dirimu dan sekitarmu.
Karena kau lah satu yang ku sayang…dan tak layak kau didera.
*finger crossed for both of us



hiks…
hi, just a question
telco vietnam ?? perusahaan apa ya ?
kenapa tidakk mencoba telco Indonesia …
thx,
it was just a story..
true story ?? or just similar …
just a story..
inspired by a true story..
LDR = long distance relationship
Lalaaaaa…aku penggemar blog-mu
Sukkkaa sama cerita ini, menyedihkan sih, tapi baguuss..
iyaa..,makasiy ya novii..hehehe
sedih bercapur haru membaca tulisan adek. Maafkan mama…karena kedewasaanmu terkadang menglahkan mama, mama menyesal jika pernah membuatmu terbebani…
saat adek tiada di sisi, hidup ini terasa berat dan hampa… kau adalah malaikat kecilku…asisten…dan semuanya. jika ada adek semua urusan dan masalah jadi mudah.
emosimu begitu stabil sehingga mama tidak pernah melihat kesedihan di wajahmu…walau mama tau adek sedang bersedih…
BTW, mama sayaaaaang adek, selalu berdoa dan berharap orang sebaik adek akan mendapatkan pasangan yang baik pula sebagai hadiah terindah dari Yang Maha Kuasa, amin.
maaciy ya mom..
I love you more..and more… :-*
Dear oong,
Like this yah..:-*
Regards,
Otok